Sunday, January 5, 2014

[batavia-news] Perampas senjata polisi di Papua Goliat Tabuni

 

 

Perampas senjata polisi di Papua Goliat Tabuni

Minggu, 5 Januari 2014 19:21 WIB | 2446 Views

Jayapura (ANTARA News) - Pelaku perampasan senjata berbagai jenis milik polisi di Puncak Jaya, Papua, adalah anggota kelompok Goliat Tabuni.

"Jadi senjata yang dirampas itu milik anggota Polres Puncak Jaya bukan Brimob. Dan, yang melakukannya adalah anak buahnya Goliat Tabuni dari kelompok Yambi," kata Kapolres Puncak Jaya AKBP Marcelis melalui telepon kepada ANTARA Jayapura, Minggu.

Perampasan dilakukan oleh Leka Telenggen dan Tengamati Telenggen bersama sekelompok teman-temannya. "Mereka ini sebenarnya anak binaan yang diikutsertakan untuk menjaga pembuatan jalan di Puncak Jaya tetapi entah bagaimana hal itu bisa terjadi," katanya.

AKBP Marcelis juga menyampaikan bahwa setelah kejadian, bawahannya sempat mengejar kelempok tersebut tetapi karena faktor cuaca dan situasi yang tidak bersahabat maka pengejaran dihentikan.

"Saya perkirakan kelompok ini telah lari dan bersembunyi di hutan. Yang saat ini kami lakukan ada melakukan pendekatan dengan kelompok adat dan masyarakat serta tokoh agama guna mengimbau kepada Leka dan Tengamti Telenggen untuk menyerahkan kembali senjata-senjata tersebut," katanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, kelompok sipil bersenjata (KSB) menyerang sebuah pos satuan Brimob di Kulirik, Kabupaten Puncak Jaya dan merampas delapan pucuk senjata berbagai jenis. Namun dalam insiden tersebut tidak ada korban, baik dari pihak aparat keamanan dan warga masyarakat.

Editor: Suryan



I am using the Free version of SPAMfighter.
SPAMfighter has removed 2387 of my spam emails to date.

Do you have a slow PC? Try a free scan!

__._,_.___
Reply via web post Reply to sender Reply to group Start a New Topic Messages in this topic (1)
Recent Activity:
http://groups.yahoo.com/group/batavia-news
to Subscribe via email :
batavia-news-subscribe@yahoogroups.com
----------------------------------------
VISIT Batavia News Blog
http://batavia-news-networks.blogspot.com/
----------------------------
You could be Earning Instant Cash Deposits
in the Next 30 Minutes
No harm to try - Please Click
http://tinyurl.com/bimagroup 
--------------
.

__,_._,___

[batavia-news] Golkar: Dalam Hukum, Tidak Ada Kosakata "Kejahatan Keluarga"

 

res : Dalam hukum tidak ada kusakat kejahatan keluarga, tetapi bukan berarti bahwa keluarga tidak turut melakukan dan menikmati hasil kejahatan. Barangkali  dalam hal ini contoh yang paling menarik ialah Madame 10 prosen, anak-anaknya pun turut menikmati dan menjadi orang-orang kaya raya.
 
 

News / Nasional

Golkar: Dalam Hukum, Tidak Ada Kosakata "Kejahatan Keluarga"

Minggu, 5 Januari 2014 | 21:08 WIB
 
 

 

Hal itu disampaikan Ade dalam acara hasil survei Indikator Politik Indonesia "Korupsi di Banten dan Evaluasi Publik terhadap Pemerintahan Ratu Atut" di Kantor Indikator, Jakarta, Minggu (5/1/2014). Ade mengaku kaget mendengar pernyataan itu dari Abraham, yang merupakan seorang penegak hukum.

"Ada jargon baru dari Pak Abraham, misalnya 'kejahatan keluarga'. Itu dalam ilmu hukum tidak ada kosakata kejahatan keluarga, tapi KPK sekarang menemukan itu," kata Ade.

Sebelumnya, Abraham menyebut telah terjadi kejahatan keluarga di Banten. Dia menduga ada banyak kasus dugaan korupsi yang terjadi di Provinsi Banten di mana aktor dalam kasus-kasus itu berkaitan satu sama lain. "Di Banten itu kejahatan keluarga," kata Abraham, Rabu (4/12/2013) di Jakarta.

KPK telah menetapkan Tubagus Chaeri Wardana dan kakaknya, yakni Gubernur Banten Atut Chosiyah, sebagai tersangka kasus dugaan suap pengurusan sengketa pemilihan kepala daerah Kabupaten Lebak, Banten. Selain itu, Abraham mengatakan bahwa KPK tengah sejumlah kasus terkait Banten. Sejauh ini, KPK menyidik dua kasus dugaan korupsi di lingkungan Pemrov Banten, yakni kasus dugaan korupsi pengadaan alat kesehatan (alkes) di Tangerang Selatan dan dugaan suap pilkada Lebak.

Selain menyidik dua kasus tersebut, KPK melakukan penyelidikan terkait pengadaan alkes di Provinsi Banten. Dalam kasus ini Abraham pernah mengatakan bahwa KPK telah menemukan bukti kuat untuk menjerat Atut, yang juga politikus Partai Golkar itu. Menurut Abraham, banyak pengaduan masyarakat terkait Banten yang masuk ke KPK. Di antaranya, proyek penyaluran bantuan sosial Pemrov Banten serta pembangunan infrastruktur di wilayah yang dipimpin Atut itu.



I am using the Free version of SPAMfighter.
SPAMfighter has removed 2385 of my spam emails to date.

Do you have a slow PC? Try a free scan!

__._,_.___
Reply via web post Reply to sender Reply to group Start a New Topic Messages in this topic (1)
Recent Activity:
http://groups.yahoo.com/group/batavia-news
to Subscribe via email :
batavia-news-subscribe@yahoogroups.com
----------------------------------------
VISIT Batavia News Blog
http://batavia-news-networks.blogspot.com/
----------------------------
You could be Earning Instant Cash Deposits
in the Next 30 Minutes
No harm to try - Please Click
http://tinyurl.com/bimagroup 
--------------
.

__,_._,___

[batavia-news] Iklan Capres dan Pemiskinan Politik

 

res : Pemiskinan politik berarti tidak bervisi artinya apa yang telah dijalankan selama ini akan terus dilaksanakan!
 
 
 

Iklan Capres dan Pemiskinan Politik

 

dok / ist

Dalam iklan politik capres di media berlangsung pembongkaran rasionalitas dan logika publik.

Ingar-bingar panggung politik Tanah Air terus bergemuruh seiring tahapan proses politik menuju Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014. Derasnya iklan politik calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) yang membanjiri layar media, khususnya televisi, semakin menggenapi fakta itu.

Hubungan simbolik dengan konstituen yang sebelumnya tercipta karena ikatan ideologis dan loyalitas tradisional, kini tergantikan karisma dan popularitas figur yang dibangun media.

Media menjadi modal sosial paling efektif membangun citra visual kandidat dan merebut ruang "diskursus". Visualisasi citra kandidat secara massif ini diharapkan mampu membangkitkan ingatan kolektif pemilih sehingga akan memberikan dukungan suara saat momentum elektorat itu digelar.

Kenyataan ini menggambarkan betapa media memainkan peran penting dalam struktur politik. Keduanya memiliki "ikatan darah", meski terkadang tak searah. Bahkan, dalam relasi itu sejumlah media tampak menjadi corong kepentingan politik tertentu. Kerja media seolah menjelma menjadi kerja kampanye politik.

Akibatnya, fungsi media bukan lagi alat kontrol yang independen dan netral terhadap proses politik. Sebaliknya, eksistensi media kini justru dikontrol politik. Kondisi ini tak bisa dilepaskan dari kedekatan antara kandidat capres atau cawapres dengan pemilik media yang juga mempunyai kepentingan politik-ekonomi.

Ada juga campur tangan juragan media yang berafiliasi dengan partai politik, bahkan malah menjadi kandidat politiknya. Pola dan struktur kepemilikan media serta relasinya dengan politik ini memahamkan kita, betapa media tidaklah berdiri otonom dan netral.

Simulasi Politik

Dalam eksperimen demokrasi saat ini, setiap kandidat atau partai politik (parpol) memang memiliki kesempatan yang sama untuk memanfaatkan modal sosial mereka, seperti media, teknologi informasi, dan komunikasi dalam berkompetisi.

Namun, pemanfaatan modal sosial (teknologi media) untuk beriklan sejauh ini justru menciptakan kultur simulasi politik. Kerja politik digiring berjalan dalam sebuah realitas maya (virtual reality), ketika citra lebih mendominasi daripada fakta, kuantitas lebih penting dari kualitas, dan persepsi lebih utama dari realitas.

Terbukti, kekuatan iklan politik capres di media bukan terletak pada gagasan, program, atau soliditas informasi kebijakan yang terkait langsung dengan kebutuhan dasar

rakyat. Kekuatan itu lebih kepada figur personal kandidat yang akan dijual.

Isu-isu patronase dan primordialisme kerap diketengahkan untuk membangkitkan respons emosional publik. Padahal, penggunaan argumen emosional (dalam beriklan) itu, menurut Franklyn Haiman (1958), cenderung

direkayasa mengarahkan publik menyingkirkan alasan logis.

Oleh karena itu, sesungguhnya dalam iklan politik capres di media berlangsung pembongkaran rasionalitas dan logika publik secara gigantik (dahsyat). Apalagi, kultur masyarakat kita masih berbasis visual. Budaya menonton lebih kuat ketimbang membaca. Jadi, publik terlihat pasif dan hanya menjadi konsumen tunakuasa di relasi media dan politik.

Dengan beriklan di media, publik dirancang memasuki wilayah—dalam istilah Jean Baudrillard (1981), reality by proxy—ketidakmampuan kesadaran dalam membedakan antara realitas dan fantasi. Bahkan, publik didorong memilih berdasarkan emosi daripada rasionalitas atas informasi yang disampaikan iklan politik.

Situasi ini jelas mendistorsi pertukaran gagasan, menampikan perdebatan ideologi dan mengabaikan diskusi nilai tentang prioritas, yang pada gilirannya akan membunuh partisipasi publik. Inilah gejala pemiskinan politik, perendahan derajat dan pendangkalan proses politik dalam menjawab tuntutan orientasi pemilu yang berkualitas dan demokrasi yang lebih bermakna.

Keberlimpahan informasi yang disajikan iklan politik di media menjadikan diskursus politik miskin pengetahuan. Hal ini menyempit ke dalam pragmatisme kepentingan yang berorientasi jangka pendek demi mendapat dukungan.

Ruang publik yang terbuka, otonom, dan bebas juga tak luput tereduksi menjadi pasar yang diperebutkan untuk kepentingan elektorat. Makna demokrasi pun terlucuti sebatas hitung-hitungan kepala tanpa memperhitungkan isi kepala (aspirasi publik).

Harus Emansipatif

Harus diakui, publik sudah jenuh dengan visualisasi politik citra kemasan media yang penuh kepalsuan. Iklan politik semacam itu diisi wajah-wajah kemunafikan yang lihai menguantifikasi harapan tanpa korelasi dengan kualitas kenyataan.

Iklan sejatinya murni wilayah komersial yang di dalamnya sarat pembujukan (persuading) agar penonton menerima apa yang ditawarkan. Ketika hal itu ditarik ke ranah politik, harus ada keterbukaan, kejujuran, kebenaran informasi, serta penghormatan terhadap kepentingan publik.

Karena itu, politik menurut Hannah Arendt (1958) merupakan seni mengabadikan diri dengan menjamin kebebasan setiap individu dalam mengupayakan kesejahteraan bersama. Pemilu adalah salah satu lokusnya.

Untuk itu, rakyat selayaknya harus dipahami sebagai subjek pemilu. Modernisasi iklan capres lewat media sebagai gejala umum politik pencitraan harus emansipatif. Artinya, konstruksi iklan capres tersebut harus bertumpu pada penggalian nalar, perspektif, persepsi, dan kualitas argumentasi pemilih dalam memanfaatkan suara saat pemilu serta harapan yang melekat dalamnya.Pembuatan iklan capres

di media sedapat mungkin menyentuh aspirasi dan segala macam persoalan atau isu yang relevan dengan kebutuhan publik. Upaya inilah yang dipandang Jurgen Habermas (1995) sebagai syarat lahirnya demokrasi deliberatif, ketika pemilu merupakan hasil pemakaian publik atas hak-hak komunikatif itu terus-menerus.

Kini, publik harus mendapat akses informasi dalam spektrum politik yang lebih luas, akurat, tidak ambigu, dan emosional, bukan propaganda, agitasi atau klaim kebenaran atas informasi palsu yang dibungkus secara verbal maupun visual lewat iklan. Mereka harus benar-benar terinformasikan dan terdorong untuk beralasan logis dalam menjatuhkan pilihannya kelak. Inilah dasar terjadinya transformasi politik yang lebih bermakna bagi keadaban publik.

*Penulis adalah analis politik pada program pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.



I am using the Free version of SPAMfighter.
SPAMfighter has removed 2385 of my spam emails to date.

Do you have a slow PC? Try a free scan!

__._,_.___
Reply via web post Reply to sender Reply to group Start a New Topic Messages in this topic (1)
Recent Activity:
http://groups.yahoo.com/group/batavia-news
to Subscribe via email :
batavia-news-subscribe@yahoogroups.com
----------------------------------------
VISIT Batavia News Blog
http://batavia-news-networks.blogspot.com/
----------------------------
You could be Earning Instant Cash Deposits
in the Next 30 Minutes
No harm to try - Please Click
http://tinyurl.com/bimagroup 
--------------
.

__,_._,___

[batavia-news] File - links to our blogs and mailing lists.htm

 

Please visit our BLOGS and Mailing List : http://indonesiaupdates.blogspot.com/ http://tionghoanet.blogspot.com/ http://chinese-clubs.blogspot.com/ http://export-import-indonesia.blogspot.com/ http://lowongannet.blogspot.com http://sarung-indonesia.blogspot.com http://iklanbarisbisnis.blogspot.com http://bethany-indonesia.blogspot.com http://bethani-indonesia.blogspot.com http://bimacoal.blogspot.com http://groups.yahoo.com/group/grosirsarung/ http://groups.yahoo.com/group/sarung-indo http://groups.yahoo.com/group/inti-net http://groups.yahoo.com/group/lowongannet http://groups.yahoo.com/group/grosirkaos http://groups.yahoo.com/group/batavia-news http://groups.yahoo.com/group/bimacoal http://groups.yahoo.com/group/agen-properti http://groups.yahoo.com/group/bethani http://groups.yahoo.com/group/agrobizz-net http://groups.yahoo.com/group/agromania-net http://groups.yahoo.com/group/bisnis-jawa-timur http://groups.yahoo.com/group/bisnis-UKM http://groups.yahoo.com/group/bisnis-voucher http://groups.yahoo.com/group/bizznet http://groups.yahoo.com/group/bursa-pengusaha http://groups.yahoo.com/group/butik-online http://groups.yahoo.com/group/buyersguide http://groups.yahoo.com/group/chinese-club-jkt http://groups.yahoo.com/group/commerces http://groups.yahoo.com/group/damar-exports http://groups.yahoo.com/group/export-indonesia http://groups.yahoo.com/group/exporter-club http://groups.yahoo.com/group/friends-of-indonesia http://groups.yahoo.com/group/gbi-prj http://groups.yahoo.com/group/grosir-beras http://groups.yahoo.com/group/grosir-komputer http://groups.yahoo.com/group/iklan-bisnis-jakarta http://groups.yahoo.com/group/iklan-kompas http://groups.yahoo.com/group/iklan-parahiyangan http://groups.yahoo.com/group/iklan-pengusaha http://groups.yahoo.com/group/iklan-properti-jakarta http://groups.yahoo.com/group/indoexport http://groups.yahoo.com/group/indonesia-cellular-club http://groups.yahoo.com/group/indonesia-export http://groups.yahoo.com/group/indonesiatravelclub http://groups.yahoo.com/group/indospices http://groups.yahoo.com/group/jakarta-properti http://groups.yahoo.com/group/jakarta-property http://groups.yahoo.com/group/kolom http://groups.yahoo.com/group/liburan http://groups.yahoo.com/group/logos-net http://groups.yahoo.com/group/lowongannet http://groups.yahoo.com/group/malaysia-biz http://groups.yahoo.com/group/mitra_bisnis http://groups.yahoo.com/group/Nissan-Livina-Club http://groups.yahoo.com/group/pabrik-label http://groups.yahoo.com/group/pacific-resources http://groups.yahoo.com/group/partai-bhinneka http://groups.yahoo.com/group/partai-golkar http://groups.yahoo.com/group/partai-nasional-indonesia http://groups.yahoo.com/group/peduli-pertiwi http://groups.yahoo.com/group/pilkada-dki http://groups.yahoo.com/group/properti-Net http://groups.yahoo.com/group/propertiNet http://groups.yahoo.com/group/rakyat-bicara http://groups.yahoo.com/group/rakyat-peduli http://groups.yahoo.com/group/republik-mimpi http://groups.yahoo.com/group/sahabat-indonesia http://groups.yahoo.com/group/suara-nasionalis http://groups.yahoo.com/group/toko-komputer http://groups.yahoo.com/group/trade-indonesia Your Business Opportunity : http://www.bimagroup.com http://www.bimagroup.com/sarung.htm

__._,_.___
Reply via web post Reply to sender Reply to group Start a New Topic Messages in this topic (88)
Recent Activity:
http://groups.yahoo.com/group/batavia-news
to Subscribe via email :
batavia-news-subscribe@yahoogroups.com
----------------------------------------
VISIT Batavia News Blog
http://batavia-news-networks.blogspot.com/
----------------------------
You could be Earning Instant Cash Deposits
in the Next 30 Minutes
No harm to try - Please Click
http://tinyurl.com/bimagroup 
--------------
.

__,_._,___

[batavia-news] File - Welcome - Batavia News.txt

 


Selamat Bergabung di Milis Batavia-News !

Milis Batavia-news adalah milis berita dan tulisan features
yang dibuat oleh reporter, wartawan, koresponden serta kontributor
dari Kantor Berita Batavia-News Online - yang tersebar di seluruh Indonesia
dan beberapa belahan dunia.

Batavia-News menjalankan fungsi sebagai kantor berita yang memasok
berita-berita baik dalam bahasa Inggris, bahasa Indonesia.
Pasokan beritanya didapat dari tulisan puluhan reporter, wartawan,
koresponden serta penulis lepas (freelance) yang berdomisili di
berbagai kota dan negara.

Beberapa berita mungkin menyuarakan kepentingan suatu negara
tertentu di dunia ini, namun tidak berarti merupakan suara resmi
dari kantor berita Batavia-News Online. Batavia-News berusaha
untuk menyajikan berita yang akurat, tercepat serta dapat
dipercaya kebenarannya, namun kontrol dari pelanggan berita
baik pribadi, bisnis, kedutaan, LSM/NGO maupun media massa
sangat diharapkan demi menjaga kebenaran berita yang dilansir.

Kantor Berita Batavia-News beroperasi tanpa dukungan dana
dari pihak manapun dan membebaskan seluruh media cetak, media
televisi dan media radio serta beragam jenis media lainnya
untuk menggunakan berita / tulisan feature yang disajikan
melalui jaringan kantor berita Batavia-News secara cuma-cuma
tanpa dipungut bayaran - namun diharapkan untuk berkenan
mencantumkan credit sumbernya sebagai Kantor Berita Batavia-News,
Jakarta, Indonesia.

Walaupun penggunaan berita maupun tulisan yang dimuat via
milis Kantor berita Batavia-News adalah Gratis tidak dipungut
bayaran, namun kepada rekan-rekan media, kalangan bisnis, pribadi
maupun rekanan lainnya yang merasakan manfaat dari berita / tulisan
feature yang ditayangkan via milis Kantor Berita Batavia-News
dan berkenan untuk memberikan kontribusi dalam bentuk dana
dapat mengirimkannya via Cek Tunai atas nama Firdaus Juven MBA
atau transfer uang elektronik / bank ditujukan kepada Firdaus
Juven MBA, Jakarta - Indonesia. (mohon informasikan via email
jika Anda berkenan memberikan kontribusi finansial).

Kami berharap keberadaan milis dan Kantor Berita Batavia-News
dapat mendukung media Anda dan kami senantiasa terbuka untuk
menerima tanggapan, kritik dan saran (ataupun pujian) melalui :

Email : batavia-news-owner@yahoogroups.com
atau
email : bimagroup@yahoo.com

Snail-Mail :
Batavia News Agency
C/O : Firdaus Juven MBA
Jakarta-Barat.

--------------------
Masih dibutuhkan :
Reporter, Wartawan, Koresponden daerah / Luar Negeri
Penulis Free lance, perwakilan kantor / pemasaran
di seluruh Indonesia dan Luar Negeri.
Silahkan hubungi :
batavia-news-owner@yahoogroups.com

__._,_.___
Reply via web post Reply to sender Reply to group Start a New Topic Messages in this topic (250)
Recent Activity:
http://groups.yahoo.com/group/batavia-news
to Subscribe via email :
batavia-news-subscribe@yahoogroups.com
----------------------------------------
VISIT Batavia News Blog
http://batavia-news-networks.blogspot.com/
----------------------------
You could be Earning Instant Cash Deposits
in the Next 30 Minutes
No harm to try - Please Click
http://tinyurl.com/bimagroup 
--------------
.

__,_._,___

[batavia-news] Zimbabwe leader Robert Mugabe has collapsed: report

 

 

Zimbabwe leader Robert Mugabe has collapsed: report

Date  January 5, 2014 - 1:17PM
  •  
    Zimbabwe's President Robert Mugabe in Harare, in August 2013.

    Zimbabwe's President Robert Mugabe in Harare, in August 2013. Photo: Reuters

    An insider from Zimbabwe's ruling government has posted information suggesting that longtime president of the African nation Robert Mugabe has collapsed.

    Happyton Bonyongwe, the Director-General of the Zimbabwean Central Intelligence Organisation, has reportedly tightened security at State House in Zimbabwe, a day after fears for Mugabe's health surfaced, according to internet commenter Baba Jukwa.

    Baba Jukwa, an insider in the ruling Zanu-PF party who uses a Facebook page to expose corruption in the regime, on Saturday reported rumours that Mr Mugabe had collapsed.

    However, he added that Mr Mugabe's press secretary, George Charamba, had denied that the President was ill

    There have been rumours for several years that Mugabe, who turns 90 next month, has prostate cancer.

    Baba Jukwa, who calls himself "a disgrunteld Zanu-PF insider", said on Saturday that Mr Mugabe had "gone on his final visit" to his doctor. Mr Mugabe had previously offered a $US300,000 reward for the unmasking of Baba Jukwa.

    Baba Jukwa has successfully exposed corruption in Zimbabwe in the past, and last year he warned that Edward Chininga, a former Zanu-PF member of parliament who had been critical of Mugabe, would die soon.

    Weeks later, Chininga died in car accident. Staged road accidents are a common form of assassination in Zimbabwe.

    In his latest post, Baba Jukwa says that security has been tightened at State House but there is no information on Mugabe.

    "If it is true that he has died, they are likely to keep his body refrigerated until security chiefs pass the nod to announce," Baba Jukwa said.

    "When that will be? It could even be 6 months later. This is the way to do it in line with protocol.

    "Meanwhile Pray for your country Great Zimbabweans so that there is no bloodshed."

    Fairfax Media



  • I am using the Free version of SPAMfighter.
    SPAMfighter has removed 2374 of my spam emails to date.

    Do you have a slow PC? Try a free scan!

    __._,_.___
    Reply via web post Reply to sender Reply to group Start a New Topic Messages in this topic (1)
    Recent Activity:
    http://groups.yahoo.com/group/batavia-news
    to Subscribe via email :
    batavia-news-subscribe@yahoogroups.com
    ----------------------------------------
    VISIT Batavia News Blog
    http://batavia-news-networks.blogspot.com/
    ----------------------------
    You could be Earning Instant Cash Deposits
    in the Next 30 Minutes
    No harm to try - Please Click
    http://tinyurl.com/bimagroup 
    --------------
    .

    __,_._,___

    [batavia-news] The Saudi garbage collectors

     

     
     
    Most of the garbage in Saudi Arabia is collected and disposed of by Pakistani workers. When they are not Pakistani, they may be Bangladeshi, Indonesian, Filipino or from some other similarly unblessed nation whose destiny has not been driven by the discovery of oil.

    It is perhaps this proximity to waste, that has led to Saudi authorities and various other instruments in the Saudi system to mistake these workers and what they do, for what they are. The Pakistanis who collect trash, the Saudis assume are trash, to be disposed forgotten and eliminated.

    Next week, on January 6, 2014 the Saudi Foreign Minister Prince, Saud Al Faisal is to arrive in Pakistan for a much awaited visit. According to news sources, he comes carrying a "very important message" from the Saudi King. While the hushed up secrecy and security surrounding the visit of the Saudi Prince means that none are quite sure regarding what this message might be, some solid guesses can be made regarding what the discussion agenda will not include. The following is a list:

    a) The discussion will not raise any questions regarding the 700 Pakistanis who currently languish in Saudi jails, without access to legal assistance or to their families. The fact that several of these face the death penalty will not be enough to raise the issue to the importance of bilateral talks between the two countries. No mention will be made either of Jaafar Ghulam Ali or the unnamed Pakistani whose heads were cut off just this past November and January.

    b) The discussion will not raise the issue of the labour/employment agreement currently being brokered between Saudi Arabia and six major labour exporting countries. The agreement, whose provisions would label all migrant workers who are not employed by large corporations as "domestic workers", is a venue through which countries can try and negotiate better rights for their workers.

    c) The discussion will not raise the issue of dead Pakistani workers whose bodies languish for weeks in Saudi morgues before their families can arrange for money to get the bodies back home. Also unspoken will be the matter of the 59.000 living Pakistanis who have recently been banished from the Kingdom and sent home owing to recently imposed restrictions on migrant laborers.

    With no beheadings, killings or deportations on the agenda, the meeting between the Prince and the Prime Minister is likely to go quite well. Undoubtedly, many pictures of flower adorned stages, and solemn nodding Saudis are likely to grace Pakistani television screens.

    At the airports of Pakistan, the labourers will continue to line up, boarding planes for Saudi Arabia, offering up their bodies, to the building of the Saudi largesse, the driving of their cars, the drilling of their oil and of course, the collecting of their garbage.

    Rafia Zakaria is a columnist for DAWN. She is a writer and PhD candidate in Political Philosophy whose work and views have been featured in the New York Times, Dissent the Progressive, Guernica, and on Al Jazeera English, the BBC, and National Public Radio. She is the author of Silence in Karachi, forthcoming from Beacon Press.



    I am using the Free version of SPAMfighter.
    SPAMfighter has removed 2373 of my spam emails to date.

    Do you have a slow PC? Try a free scan!

    __._,_.___
    Reply via web post Reply to sender Reply to group Start a New Topic Messages in this topic (1)
    Recent Activity:
    http://groups.yahoo.com/group/batavia-news
    to Subscribe via email :
    batavia-news-subscribe@yahoogroups.com
    ----------------------------------------
    VISIT Batavia News Blog
    http://batavia-news-networks.blogspot.com/
    ----------------------------
    You could be Earning Instant Cash Deposits
    in the Next 30 Minutes
    No harm to try - Please Click
    http://tinyurl.com/bimagroup 
    --------------
    .

    __,_._,___

    [batavia-news] Panggung Terakhir SBY

     

     
     

    Oleh : Wahada Mony (Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) Periode 2013-2015)

    "Terwujudnya Indonesia yang mandiri, maju, adil dan makmur serta mewujudkan Indonesia yang lebih sejahtera, aman dan damai serta meletakan fondasi yang lebih kuat bagi indonesia yang adil dan demokratis".

    Begitulah bunyi tageline politik yang tertuang dalam visi-misi Presiden dan Wakil Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Boediono paska terpilih pada Pemilu tahun 2009 silam. Rasanya belum diwujudkan secara fundamental dan holistik oleh SBY. Pemerintahan era reformasi ini setelah melegitimasi kekuasaannya bersama Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) Jilid II yang di bentuk guna mewujudkan cita-cita politik kenegaraan Indonesia seperti yang tertuang dalam perangkat visi tersebut. Kurang lebih empat (4) tahun terakhir ini dari 2009 hingga 2013, perjalanan politik pemerintahan episode kedua SBY-Boediono tak pernah luput dari ancaman, kritikan maupun rintangan yang amat panjang. Perilaku publik demikian adalah lumrah sebagai fungsi kontrol pemerintah atas kinerja dan kebijakan yang di anggap tidak sesuai harapan.

    Jika kembali menengok kebelakang maka kinerja pemerintahan SBY-Boediono selama memimpin negara hingga kurun waktu empat tahun ini cukup memprihatinkan dibanding era pemerintahan sebelumnya. Bahkan publik menilai ternyata rezim Orde Baru masih di anggap baik oleh masyarakat Indonesia dibanding reformasi saat ini. Hal ini ditandai dengan kinerja pemerintah di beberapa sektor vital dan strategis seperti ekonomi, hukum, politik, pertahanan keamanan maupun hubungan internasional yang dianggap publik gagal diwujudkan oleh SBY. Karena itu, kinerja pemerintahan SBY-Boediono masih saja dipertanyakan. Tak ayal, komparasi adalah hal yang sering dilakukan ketika situasi tidak memenuhi harapan masyarakat. Maka sangat wajar ketika rakyat menilai rezim kepemimpinan era sebelumnya masih sangat baik ketimbang kondisi bangsa saat ini yang dipimpin Presiden SBY.

    Keprihatinan publik ini ibarat mimpi disiang bolong, tak ada harapan yang didapat tapi justru duka nestapa yang di alami bangsa. Negara jatuh bangun karena Indonesia yang mandiri, maju, adil, makmur dan sejahtera tak kunjung wujud memenuhi amanah dasar Pancasila dan konstitusi UUD 1945. Kondisi ekonomi yang semakin saja terpuruk, keadaan hukum yang semrawut serta penataan sistem politik yang carut marut adalah sederaet peristiwa kelam yang terjadi dipenghujung usia pemerintahan SBY. Sontak masyarakat merasa tidak puas bahkan pesimis atas kinerja pemerintah. Lembaga survei Indo Barometer misalnya merekam tingkat ketidakpuasan publik terhadap kinerja SBY-Boediono masih di bawah angka 50 %. Kondisinya mencerminkan kalau mayoritas masyarakat Indonesia tidak puas dengan pencapaian reformasi sebesar 55 % dan yang puas hanya sekitar 29,7 %, (Indo Barometer; 2010).

    Raport Merah SBY


    Kinerja kepemimpinan Jilid II SBY-Boediono mendapat cobaan amat berat ketika diuji  pada awal masa 100 hari kerja pemerintahan. Kala itu SBY belum memenuhi janji mewujudkan visi Indonesia yang komprehensif. Sorotan publik menuai tak sedap dengan mengecap rezim SBY masih memiliki nilai raport merah di tahun 2010. Berikut presiden bersama kabinetnya terus melakukan recovery dan perbaikan sistem kinerja di berbagai aspek. Namun lagi-lagi tak mencapai perubahan pembangunan yang signifikan. Tahun 2012 penelusuran lembaga riset politik yang terungkap dalam rilis Riset Politik Charta Politika Indonesia kembali mengungkap fakta kinerja kegagalan SBY-Boediono, sebanyak 41,6 % publik mengaku kurang puas dengan kinerja pemerintahan SBY-Boediono. Sementara yang mengaku puas hanya berkisar 35,7 %, sedangkan yang tidak puas sama sekali sebanyak 9,0 %.

    Realitas diatas menunjukan bahwa rendahnya tingkat kepuasaan publik diatas juga terkait erat dengan persepsi publik yang negatif terhadap kinerja menteri dari kalangan parpol yang kian susut. Menteri Agama (Suryadharma Ali) hanya memberi trend kepuasan publik yang paling tinggi sebanyak 26,4 %. Perolehan ini disusul Menko Perekonomian Hatta Rajasa (22,4 %), Menkominfo Tifatul Sembiring (21,5 %), Menpora Andi Mallarangeng (saat itu) (19,8 %) dan Menteri Pertanian Suswono (19 %).

    Selanjutnya, Menteri Sosial Salim Segaf al-Jufrie (18,3 %), Menko Kesra Agung Laksono (17, 4 %), Menteri Koperasi dan UKM Syarief Hasan (15,2 %), Menteri Perhubungan EE Mangindaan (14,5 %), MenPAN dan Reformasi Birokrasi Azwar Abu Bakar (14,4 %), Menteri ESDM Jero Wacik (14,3 %), Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan (13,6 %), Menakertrans Muhaimin Iskandar (13,4 %), Menkumham Amir Syamsuddin (13,3 %), Menteri Kelautan dan Perikanan Syarif Cicip Sutardjo (12,7 persen), dan Menteri PDT A Helmy Faisal (10,6 %), (Charta Politika Indonesia:30/8/2012).

    Rata-rata tingkat ketidak puasan publik terhadap kinerja kebijakan menteri yang paling besar menteri dari kalangan partai politik yang paling cukup rendah dengan mencapai tingkat ketidakpuasan publik dibawah angka 50 %. Hal ini yang menurut banyak pengamat bahwa tingkat ketidakpuasana publik atas kinerja pemerintahan SBY-Boediono disebabkan akibat faktor "Koalisi Semu" yang di bangun dalam Kabinet Jilid II (KIB II) yang dibuktikan dengan ketidakpuasan terhadap figur menteri dari partai yang cukup besar. Yang amat sinis di mata publik, raport merah yang di capai dalam kinerja pemerintah SBY terjadi pada beberapa sektor penting dan strategis yakni sektor ekonomi, hukum, dan politik. Sektor ekonomi sebagai penyumbang tingkat ketidakpuasan publik yang paling besar hingga mencapai 67,4 %, menyusul sektor hukum berkisar 58 % dan politik mencapai angka terendah.

    Lain lagi fakta rilis Lembaga Survei Indonesia (LSI) juga menunjukkan terjadinya peningkatan ketidakpuasan publik terhadap dinamika keadaan nasional. Dari aspek ekonomi, ketidakpuasan publik meningkat dari 32.4% (Januari 2011) ke 35.7% (Juni 2011). Aspek politik juga sama dari 24.4% (Januari 2011) ke 33.9% (Juni 2011). Begitupula dengan aspek penegakan hukum, dari 31.2% (Januari 2011) ke 33.1% (Juni 2011). Dan dalam aspek keamanan, dari 11.4% (Januari 2011) ke 14.9% (Juni 2011). Meningkatnya ketidakpuasan publik di atas merupakan protes terhadap lemahnya kepemimpinan SBY dalam menangani persoalan-persoalan bangsa.

    Kinerja Kepemimpinan SBY-Boediono periode dua ini gagal memperbaiki sistem kinerja pembangunan yang dicapai. Kerasnya pemerintah yang sering mengklaim kinerja SBY saat ini dianggap baik dan positif hanya berkutat pada value dan angka-angka pembangunan yang ditunjukan. Jika pemerintah berteori dengan menunjukan pertumbuhan ekonomi terus meningkat dan membaik, kehidupan politik dan demokrasi semakin maju serta keadaan hukum mulai membenah. Maka hal ini akan berbeda dengan kondisi masyarakat kecil yang tinggal di daerah pedalaman maupun pinggiran kota.

    Masyarakat miskin yang masih sulit mengenyam pendidikan gratis, masyarakat wong cilik yang susahnya hidup sehat, penderita gizi buruk tanpa peduli pemerintah. Dimanakah janji Presiden SBY untuk menjawab kebutuhan masyarakat agar hukum itu diberi adil tanpa pandang bulu, agar ekonomi tumbuh hingga mencapai 7-8 persen, sumber daya alam tak lagi dirampok apalagi industri dan pasar tidak untuk dikuasai asing, mewajibkan pendidikan murah nan gratis tanpa biaya dari APBN wajib 20 persen serta petani, pedagang maupun buruh tak lagi bergejolak.

    SBY hanya bisa berprestasi pada aspek politik pencitraan yang di lakoninya. Sebagai seorang negarawan dan tokoh pemimpin bangsa yang pandai, tegas dan berwibawa serta berani mengambil keputusan saat kondisi negara genting. Politik pencitraan dilakukan sebagai senjata ampuh yang digunakan untuk mengambil hati rakyatnya. Sangat wajar jika seorang presiden membentuk citra sebaik mungkin demi menjaga imej baiknya di mata masyarakat Indonesia. Tapi bukan untuk kesejahteraan rakyat, justru pencitraan SBY terburuk dalam menjalankan roda pemerintahan dan kinerja tak memuaskan masyarakat Indonesia.

    Sektor dan Masa Darurat


    Sepanjang perjalanan pemerintahan SBY kondisi Indonesia mengalami pasang surut yang semakin tak menentu. Sinisme publik atas kegagalan kinerja seakan mengemuka dan menguat. Dinamika politik, ekonomi, sosial budaya, serta hukum dan HAM menunjukan betapa negeri ini belum mapan dan kian jauh dari harapan. Ikatan politik antara rakyat dengan pemimpinnya mulai renggang bahkan publik menilai kalau SBY adalah pemimpin yang otoriter masa kini. Kepentingan politik praktis menjadi capaian utama diatas kepentingan negara dan rakyatnya. Ironisnya, negara belum mewujudkan rasa keadilan bagi negerinya bahkan rakyat masih hidup di bwah garis kemiskinan. Keadaan ini membuat sektor ekonomi, hukum serta politik saat ini menjadi genting dan dalam keadaan darurat negara. Artinya, kinerja SBY dibidang ekonomi merosot drastis, begitu halnya dengan kondisi hukum dan politik yang amburadul. Ketiga segmen itulah penyumbang prestasi buruk dalam kepemimpinan SBY sampai saat ini.

    Sektor ekonomi adalah yang paling strategis dan yang menentukan arah kompas pembangunan Indonesia dibanding sektor lainnya. Selama era SBY, kondisinya memburuk tak sebagus yang terucap dalam fakta dan data faktual pemerintah. Jika pertumbuhan ekonomi Indonesia membaik oleh pemerintah hanya terasa pada masyarakat ekonomi kelas menengah keatas sementara bagi masyarakat ekonomi kelas bawah justru keadaannya terbalik dan semakin terpuruk (Yudi Latif;2013). Dalam survei Indonesia Network Election Survey tahun 2013 mencatat, selama pemerintahan SBY keadaan ekonomi 74,4 persen dalam keadaan menurun. Hal ini berakibat melonjaknya harga BBM hingga membuat daya beli masyarakat menurun dan kehidupan ekonomi rakyat semakin berat. Yang paling parah adalah praktek liberalisasi pasar kian merajai era pemerintahan SBY.

    Dari ekonomi pasar hingga industri, dari tambang sampai ke migas bahkan dari sektor hulu ke hilir kini sudah dikuasi asing. Rezim SBY yang berkuasa tanpa peduli telah menarik kebijakan ekonomi ke kapitalis dan neoliberal. Membuat ekonomi indonesia kembali menambah utang negara yang awalnya mencapai Rp 1.977,71 Triliun pada akhir 2012 dan sekarang naik menjadi Rp 2.273,76 triliun pada September 2013. Dengan demikian, aset negara pun dikuasai pihak asing hingga menembus level 70-80 persen. Maka secara kualitas kemiskinan mengalami involusi dan cenderung semakin kronis. Sisi lain pengangguran Indonesia sebesar 6,25 persen atau sebanyak 7,39 juta orang (Agustus 2013), ketika dibanding tahun 2012 yang hanya berkisar 6,14 persen.

    Angka pengangguran bertumbuh lantaran ekonomi tumbuh hanya 5,62 persen. Artinya perlambatan ekonomi terjadi karena pengurangan lapangan kerja. Dalam keadaan ekonopmi genting seperti itu, mala SBY ingin sekedar menaikan citra pemerintah dengan rela merogok kocek 109 Miliar untuk kegiatan WTO di Bali pada beberapa waktu lalu. Namun apa yang didapat dari kesepakatan perdagangan tersebut , tak banyak memberikan profit bagi Indonesia justru pemerintah hanya menebar pesona atas negara-negara di dunia yang ikut dalam agenda pertemuan itu.

    Sisi hukum masa SBY juga menjadi abnormal eksistensinya saat ini. Indonesia belum memiliki kepastian hukum yang jelas. Pengadilan hukum masih menjatuhkan vonis kepada kelompok lemah yang menyisahkan kaum penguasa di atasnya. Rasanya publik tak percaya dengan pemberantasan korupsi di zaman SBY. Sekitar 72,3 persen masyarakat tak puas dengan penegakan hukum di masa ini. Yang paling fatal, korupsi terjadi melibatkan orang-orang dekat SBY terutama di Demokrat. Data audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)  selama tujuh tahun kepemimpinan SBY ditemukan penyimpangan anggaran sebesar Rp 103,19 triliun. Akibat korupsi pada rezim SBY, negara rugi Rp 2,169 Triliun. SBY-Boediono menjadi gagal dalam menegakkan supremasi hukum. Berbagai megaskandal korupsi yang terjadi selama pemerintahannya tak pernah mampu diselesaikan. Seperti skandal Bank Century, mega proyek Hambalang, pembangunan Wisma Atlet di Palembang, SKK Migas, hingga menyeret lembaga hukum tertinggi Mahkamah konstitusi (MK).

    Politik oligarki maupun dinasti politik yang melilit zamannya SBY membuat kondisi politik nasional makin tak sehat dan stabil. Kondisinya memburuk apalagi menjelang tahun politik Pemilu 2014 membuat suhu politik mejadi gaduh. Kisruh DPT adalah babak akhir dari politik desaign pemerintah untuk menyelamatkan kepentingan kelompok tertentu. Rakyat masih ragu dengan pemerintah jika demokrasi tak akan berjalan pincang dan penuh noda politik akibat perilaku elita maupun pejabat yang tidak fair. Jika demikian terjadi maka partisipasi politik masyarakat akan menurun. Yang terlahir adalah konflik politik maupun kepentingan (interes conflict). Meskipun aneh kondisinya tapi nyata roda politik yang terjadi benar-benar membuat publik semakin miris atas keadaan yang sebenarnya. Karena ulah praktek demokrasi, sekitar 311 pejabat Kepala Daerah di Indonesia menjadi pelaku korupsi (Akbar Tanjung Institute:2013). 

    Kini usia kepemimpinan SBY akan segera lengser pada medio 2014 mendatang. Agenda politik kini menjadi momentum penting tengah disiapkan pemerintah. Jelang Pemilu 2014 maka tokoh pengganti SBY untuk melanjutkan estapet pemerintahan untuk lima tahun mendatang menjadi diskursus politik di tahun panas ini. Ketika publik menyatakan ketidakpuasannya kepada SBY dan pemerintah maka sejatinya ekspektasi masyarakat akan lebih hati-hati dalam memilih calon pemimpin presiden berikutnya. Dua periode kepemimpinan SBY tak meninggalkan sejarah emas dan jejak politik untuk ditiru. Hanya tertinggal kisah mendalam bagi seluruh rakyat Indonesia untuk mengenang masa kepemimpinannya. Semoga pemilu tahun ini menjadi dambaan seluruh masyarakat Indonesia. (*)



    I am using the Free version of SPAMfighter.
    SPAMfighter has removed 2369 of my spam emails to date.

    Do you have a slow PC? Try a free scan!

    __._,_.___
    Reply via web post Reply to sender Reply to group Start a New Topic Messages in this topic (1)
    Recent Activity:
    http://groups.yahoo.com/group/batavia-news
    to Subscribe via email :
    batavia-news-subscribe@yahoogroups.com
    ----------------------------------------
    VISIT Batavia News Blog
    http://batavia-news-networks.blogspot.com/
    ----------------------------
    You could be Earning Instant Cash Deposits
    in the Next 30 Minutes
    No harm to try - Please Click
    http://tinyurl.com/bimagroup 
    --------------
    .

    __,_._,___