Wednesday, November 20, 2013

[media-jabar] Siaran Pers : Pembukaan Pameran "transit #2", Pameran Seniman Residensi Arman Jamparing, Claudia Dian, Iwan Yusuf dan Rio Sigit Baskoro; Jumat, 29 November 2013, Pk. 19.00 WIB, di Amphiteater-SSAS

 

Kepada Yth.

Redaktur Budaya

Di Tempat

 

Siaran Pers

 

 

transit #2

Pameran Seniman Residensi Arman Jamparing, Claudia Dian, Iwan Yusuf dan Rio Sigit Baskoro

 

29 November – 22 Desember 2013

Ruang B & Ruang Sayap

Selasar Sunaryo Art Space

Jalan Bukit Pakar Timur 100 Bandung 40198

www.selasarsunaryo.com

 

 

 

Selasar Sunaryo Art Space (SSAS) dengan bangga mempersembahkan pameran residensi transit #2, sebagai hasil akhir dari program ini yang melibatkan empat orang seniman: Arman Jamparing, Claudia Dian, Iwan Yusuf dan Rio Sigit Baskoro. Mereka telah menjalani residensi dari bulan Mei hingga Juni 2013.

 

Dua bulan masa residensi itu dijalani mereka dengan melakukan eksperimentasi kekaryaan yang didampingi oleh dewan fasilitator. Pendampingan tersebut bertujuan membantu seniman merumuskan gagasan-gagasan baru yang pada akhirnya memaksimalkan kekaryaan mereka. Selain dengan para fasilitator, para seniman ini juga melakukan dialog dengan kurator, kritikus, seniman, mahasiswa seni dan publik seni lain melalui program open studio. Mereka juga aktif melakukan kunjungan beberapa perhelataan seni rupa di Bandung seperti pameran, diskusi, dsb.

 

transit adalah program residensi yang bukan hanya berorientasi pada proses, melainkan juga berorientasi pada hasil akhir, yakni penyiapan karya untuk pameran. Selama dua bulan, para seniman tidak diwajibkan untuk menyelesaikan karya melainkan menemukan gagasan, konsep atau ide yang akan dieksekusi untuk kepentingan pameran. Dalam waktu kurang lebih empat bulan para seniman ini menyiapkan karya di tempat asal mereka, yang akan dipresentasikan pada pameran ini.

 

Keberadaan fasilitator pada residensi transit menempatkan seniman pada kondisi transisional, yang membuat mereka mendapatkan kritik dan masukan yang menantang dan kadang mengejutkan. Fase transisional juga didapatkan melalui perjumpaan dan dialog di antara mereka sendiri, karena mereka memiliki latar belakang atau pendekatan artistik yang berbeda. Maka dari itu, salah satu indikator keberhasilan transit adalah seniman mampu menjawab kritik serta dapat menampilkan karya dengan gagasan yang relevan dengan modus artistiknya, yang pada akhirnya benar-benar menampilkan potensi mereka. Namun, patut digarisbawahi bahwa transit bukan merupakan residensi yang berorientasi pada perubahan kekaryaan seniman secara drastis.

 

transit diinisiasi SSAS pada tahun 2011. Dirancang sebagai kegiatan reguler dua tahunan, program residensi ini diharapkan menjadi semacam ‘persinggahan’ bagi seniman-seniman terpilih menuju proses kekaryaan yang lebih kaya dan eksploratif. transit #2 menghadirkan Agung Hujatnikajennong, Aminudin TH Siregar, Hendro Wiyanto dan Sunaryo sebagai fasilitator.

 

Seniman Residensi transit #2

 

Arman Jamparing (lahir di Garut, 1975) aktif melakukan aksi seni di ruang publik di Bandung. Aksi-aksi Arman acapkali merupakan kritik terhadap kondisi sosial politik dan advokasi terhadap golongan-golongan masyarakat yang terpinggirkan. Karya-karya Arman juga mewakili kepekaannya yang unik pada penggunaan teks. Kekuatan teks-teksnyameskipun sering melanggar kaidah tata bahasahadir atas kegelisahan personal namun bermakna universal karena secara tersirat mengandung kritik atas sebuah persoalan yang dirasakan oleh publik luas. Selama masa residensi, Arman yang notabene adalah ‘seniman jalanan’, dihadapkan pada situasi baru. Kerja kesenimanan residensi membuatnya beradaptasi dengan kekaryaan yang berorientasi ‘studio’. Grafiti-grafiti Arman yang memenuhi studionya hingga ke beberapa tempat di sekitar lokasi Bale Tonggoh mewakili adaptasi-adaptasinya itu. Berkarya di sebuah ruang seni membuatnya tertarik untuk menjelajahi persoalan-persoalan yang terjadi pada institusi-institusi seni, terutama pertentangan institusional idiom high art yang eksklusif dengan idiom street art yang selalu mencoba mensubversi eksklusivitas itu sendiri.

 

Sejak dua tahun terakhir, Claudia Dian (lahir di Jakarta, 1989) intensif mengembangkan bahasa visual medium gambar (drawing), berpokok soal pada rangka yang berkaitan dengan spiritualitas. Dengan judul Spiritualitas Rangka, Dian menciptakan beberapa gambar potongan tulang hewan yang mewakili pemahaman spiritualnya sendiri. Baginya, tulang memiliki sifat keilahian terkait fungsinya sebagai penyangga tubuh (kehidupan) dan sifatnya sebagai organ yang paling lama terurai dalam sebuah jasad makhluk hidup yang sudah mati. Selama menjalani residensi, kepekaan Dian mengenai gagasan spiritualitas menuju ke arah yang lebih personal, yakni berfokus pada tulang belakangnya sendiri yang mengalami kelainan skoliosis. Setelah memperoleh citraan foto X-ray tampilan tulang belakangnya, ia memindahkan ke sebidang kertas besar, yang tersusun dari tumpukan-tumpukan arsiran tinta pena di atas kertas. Kelainan tulang yang diidap Dian membuatnya mengalami nyeri setelah beberapa lama berkarya, yang menuntunnya pada pengalaman terapetik-transendental yang aneh, sehingga membuatnya dapat melakukan semacam dialog dengan gambarnya sendiri. Secara tidak langsung, gambar-gambar Dian mengekspos rasa nyeri itu, yang membawanya pada pemahaman spiritual yang baru.

 

Iwan Yusuf (lahir di Gorontalo, 1982) adalah seniman yang memiliki kecakapan teknis yang sangat baik, terutama dalam seni lukis yang berorientasi mimesis. Lukisan-lukisan Iwan menarik perhatian karena dengan ukuran besar, ia dapat meniru objek secara hiperealis yang mengejar kualitas warna, tekstur dan raut secara sangat akurat. Dengan material cat minyak, Iwan telah menghasilkan puluhan lukisan hiperealis. Ia dikenal sebagai pelukis yang menjelajahi pokok soal potret.  Saat menjalani residensi transit #2, dengan pokok soal yang sama, Iwan juga mulai melakukan beberapa eksperimentasi material. Potensi kekaryaannya pun makin berkembang dan ia makin disadarkan pada sesuatu. Bila kita mencermati lukisan, objek dan patung Iwan, baik garis, sapuan, campuran warna dan tumpukan-tumpukan material itu berenergi kuat. Hal ini disebabkan oleh kepekaan mata Iwan yang bukan sekadar menangkap kualitas objek secara mimesis melainkan juga punya kecenderungan untuk menerakan hal yang dalam, yang sebetulnya tidak terlihat secara kasatmata.

 

Rio Sigit Baskoro (lahir di Surabaya, 1986) intensif mengembangkan aspek kebahasaan medium lukisan. Lukisan-lukisannya secara kasat mata memang menampilkan citraan representasional, namun dalam lapisan yang lain juga mempersoalkan konsep representasi itu sendiri. Sebagai pelukis kontemporer, Rio menyadari bahwa melalui lukisannya, ia harus menyampaikan makna dan representasi dengan cara yang baru mengingat teknologi informasi mampu menampilkan produsen-produsen citraan secara lebih canggih dan masif. Tiga tahun terakhir Rio menjelajahi pokok soal mall yang mewakili konsep konsumerisme. Selama masa residensi Rio juga masih bereksperimen menampilkan bentuk-bentuk representasi baru.  Misalnya, dalam sebuah lukisan ia memampatkan beberapa foto etalase di dalam mall sehingga secara sambil-lalu lukisan itu hadir secara ‘abstrak’ yang hanya menampilkan sensasi visual. Melalui karya ini, Rio hendak menampilkan citraan-citraan etalase mall yang hanya mewakili makin masifnya konsumerisme yang cenderung tanpa esensi. Dan, secara ‘ironis’ Rio menghadirkan ‘ketiadaan esensi’ itu dengan metode melukis realistis.

 

(Chabib Duta Hapsoro, Kurator Selasar Sunaryo Art Space)

 

 

Adapun detail dari kegiatan adalah sebagai berikut:

Pembukaan Pameran           : Jumat, 29 November 2013

Pk. 19.00 WIB

di Amphiteater

 

Artists Talk                            : Sabtu, 30 November 2013

Pk. 15.00 WIB

di Bale Handap

 

Durasi Pameran                    : 29 November 2013 s.d. 22 Desember 2013

Ruang B & Ruang Sayap

Selasar Sunaryo Art Space

Jl. Bukit Pakar Timur No. 100

Bandung 40198

 

Besar harapan kami bahwa rekan-rekan jurnalis berkenan untuk meliput dan menghadiri kegiatan ini, mengingat pentingnya peran media massa dalam mewartakan kegiatan-kegiatan seni budaya di Indonesia. Terima kasih banyak atas perhatian dan kerja sama yang diberikan.

 


Hormat kami,

Selasar Sunaryo Art Space

 

 

 

Elaine V. B. K.

Program Manager

+62 813 2000 999 7

program@selasarsunaryo.com

 

* Press Kit (CV seniman, foto diri dan proses) dapat diunduh dari tautan berikut:

http://www.sendspace.com/file/kh65bv

 

 

__._,_.___
Reply via web post Reply to sender Reply to group Start a New Topic Messages in this topic (1)
Recent Activity:
.

__,_._,___

No comments:

Post a Comment