Sunday, March 16, 2014

[batavia-news] Inpres soal Asap Majal

 

Barangkali dengan asap kabut Riau dapat dimengerti mengapa wanita harus pakai jilbab dan baju tutup aurat serta cador atau nikap atau juga burqa
 
 

Inpres soal Asap Majal

Jum'at, 14 Maret 2014 Penulis: Vera Erwarty Ismainy/BG/YH/Riz/*/X-6)
KONDISI kabut asap akibat pembakaran lahan dan hutan di Riau yang semakin memburuk dinilai sebagai imbas dari ketidakefektifan Inpres Nomor 16 Tahun 2011 soal Penanganan Asap.

Direktur Walhi Abetnego Tarigan mengatakan pemerintah mengeluarkan banyak izin tanpa didukung kemampuan dan kecakapan dalam mengendalikan penerima izin tersebut.

''Pemerintah juga tidak memiliki kesiapan dan kemampuan untuk mengawasi dan menindak pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan pembakar lahan,'' kata Abetnego ke pada Media Indonesia di Jakarta, kemarin.

Senada dengan Walhi, Greenpeace juga melihat kebakaran hutan di Riau yang semakin me luas merupakan dampak lemahnya pengawasan dan penegakan hukum terkait perizinan lahan gambut.

Political Forest Campaigner Greenpeace Yuyun Indradi menambahkan, sudah banyak memang peraturan mengenai pengendalian kebakaran hutan seperti Inpres Nomor 16 Tahun 2011, zero burning policy, serta RUU Perlindungan dan Pemanfaatan Lahan Gambut. Namun, dalam penindakan dan pemberian sanksi, aturan-aturan itu majal. Kebakaran hutan pun terus terjadi setiap tahun.

''Sebanyak 75% titik kebakaran di Riau saat ini terdiri dari lahan gambut. Kami punya list perusahaan yang memiliki lahan gambut yang menjadi titik kebakaran dan sudah kami advokasi kepada pemerintah, tetapi tanggapannya masih begitu-begitu saja,'' papar Yuyun, kemarin.

Untuk meningkatkan efektivitas inpres dan aturan terkait lainnya, menurut Abetnego, pemerintah harus memasukkan tindakan pembakaran lahan dan hutan sebagai kejahatan korporasi.

''Dalam jangka pendek, menengah, dan panjang, pemerintah harus meninjau ulang izin-izin dari lahan yang sering dilanda kebakaran, bahkan tanpa ragu mencabutnya.''

Selain itu, Greenpeace mendorong pemerintah untuk mengkaji ulang izin pemanfaatan lahan gambut dan mengaudit perusahaan-perusahaan pemilik lahan gambut.

Memburuk

Di sisi lain, sejumlah warga Pekanbaru, kemarin, dilaporkan mulai mengungsi karena kondisi udara terus memburuk akibat asap. Umumnya me reka meninggalkan Pekanbaru karena tidak tahan dengan kondisi udara yang rentan memaparkan infeksi saluran pernapasan atas (ISPA).

Sri Maharani, 30, warga Jl Bukit Barisan, Pekanbaru, mengaku akan pergi ke Yogya karta karena hampir dua pekan anaknya, Shakira, 2, tak kunjung sembuh dari batuk akibat asap.

Rian Anggoro, warga Kemuning, Pekanbaru, harus mem beli alat penjernih udara kare na asap sudah masuk ke rumah.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam rilis, kemarin, menyampaikan dampak pembakaran lahan dan hutan di Riau kian meluas. Hampir seluruh wilayah Riau dan Sumbar tertutup kabut asap.

Gubernur Sumbar Irwan Prayitno pun menetapkan Sumbar siaga darurat asap, kemarin. Sejumlah kota dan kabupaten di provinsi itu meliburkan para pelajar.

Kepala Operasi Bandara In ternasional Minangkabau (BIM) Padang, Joko Sudarmanto, mengatakan sejumlah penerbangan di bandara itu dibatalkan. Sebelumnya, hal yang sama dilakukan di Pekanbaru.

__._,_.___
Reply via web post Reply to sender Reply to group Start a New Topic Messages in this topic (1)
http://groups.yahoo.com/group/batavia-news
to Subscribe via email :
batavia-news-subscribe@yahoogroups.com
----------------------------------------
VISIT Batavia News Blog
http://batavia-news-networks.blogspot.com/
----------------------------
You could be Earning Instant Cash Deposits
in the Next 30 Minutes
No harm to try - Please Click
http://tinyurl.com/bimagroup 
--------------
.

__,_._,___

No comments:

Post a Comment