Wednesday, August 14, 2013

[batavia-news] Terpinggirkannya Orang Bali, Awal Kehancuran Bali

 

res: Apakah hanya orang Bali terpinggirkan dibawah kekuasaan neo-Mojopahit?
 
 
14 Agustus 2013 | BP
Terpinggirkannya Orang Bali, Awal Kehancuran Bali
 
 
BALI dikenal sebagai pulau yang kecil nan indah. Indah alamnya, budayanya, dan ''indah'' jiwa orang-orangnya. Namun saat ini, alam Bali sudah jauh berubah. Bahkan bisa dikatakan sudah rusak. Rusak karena banyak direkayasa untuk menjawab tuntutan pariwisata (baca: investor).

Dr. I.B. Putera Manuaba dalam tulisan pada kolom opini (BP, 10/8) menyebutkan pariwisata itu dapat diibaratkan seperti ''api''. Jika diarahkan dengan baik, akan dapat menghasilkan banyak manfaat. Tetapi jika tak diarahkan akan dapat membakar habis. Ini sebuah kekhawatiran untuk alam Bali.

Fenomena yang amat mengkhawatirkan juga berkait penguasaan lahan secara akal-akalan untuk tujuan bisnis oleh pihak luar Bali. Ada juga fenomena kelangkaan air bersih yang ditengarai akibat jumlah pembangunan vila dan hotel yang tak terkendali.

Beranjak dari berbagai kekhawatiran itu, Bali sebenarnya sedang mendapat ancaman. Tak hanya ancaman terhadap alam, juga budaya dan agama Hindu juga terancam. Contoh yang amat memprihatinkan ketika pertanian di Bali sudah banyak ditinggalkan. Nantinya pariwisata juga tak bisa diharapkan, sebab pertanian, yang merupakan salah satu kekuatan budaya sudah mati. Untuk kembali lagi ke pertanian, tentu sulit. Sebab, sawah telah berubah jadi hotel, perumahan, vila, pertokoan, dan rumah-rumah bisnis lainnya.

Putera Manuaba yang dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga, Surabaya ini menyebutkan, lantaran Bali punya potensi wisata dunia, kaum kapitalis bisa melakukan apa saja dengan kuasa uangnya untuk mendapatkan tanah Bali. Dalam kondisi seperti ini, masyarakat lokal Bali yang seharusnya jadi pemilik tanah makin terjepit. Orang-orangnya pun makin terisolir. Tak bebas lagi menikmati alam Bali dan melakukan ritual di alam Bali.

Masyarakat Bali mutakhir saat ini sepertinya juga bergeser dari masyarakat yang homogen ke masyarakat yang heterogen. Sebagai masyarakat yang makin kompleks dari suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Kondisi ini sebagai dampak dari interaksi yang mendunia dalam dunia pariwisata. Semua yang berkepentingan datang ke Bali, menetap di Bali, dan juga turut menjadi pemilik Bali, yang kian hari makin membesar. Ini keniscayaan.

Namun, yang patut kita renungkan, heterogenitas masyarakat Bali jangan sampai menafikan kekhasan Bali. Artinya, dalam alam Bali, harus tetap lebih menonjolkan homogenitas masyarakat Bali dengan adat-istiadatnya yang khas. Sebab, yang disebut Bali itu adalah karena kekhasannya. Taksu Bali harus tetap hidup dan menghidupi Bali. Jika tidak demikian, apa yang dibanggakan lagi tentang Bali? Ketika Bali berubah kuat menjadi masyarakat heterogen, kekhasan dan keunikan Bali akan kabur, terkubur, dan kemudian akan punah. Silang-budaya memang amat kuat, tetapi komitmen menjaga alam Bali harus tetap tegak ditancapkan.

Memikirkan keterjagaan alam Bali harus menjadi langkah awal, yang perlu dilanjutkan dengan melakukan tindakan nyata antisipatif oleh segenap komponen masyarakat dan terutama harus dimotori pemimpin Bali. (wirata)

__._,_.___
Reply via web post Reply to sender Reply to group Start a New Topic Messages in this topic (1)
Recent Activity:
http://groups.yahoo.com/group/batavia-news
to Subscribe via email :
batavia-news-subscribe@yahoogroups.com
----------------------------------------
VISIT Batavia News Blog
http://batavia-news-networks.blogspot.com/
----------------------------
You could be Earning Instant Cash Deposits
in the Next 30 Minutes
No harm to try - Please Click
http://tinyurl.com/bimagroup 
--------------
.

__,_._,___

No comments:

Post a Comment