Thursday, March 27, 2014

[batavia-news] Mengakhiri Jebakan Pemimpin Artifisial

 

res :  Sinonim dari artifisial adalah palsu. Kala palsu bermacam coraknya manusia, misalnya: koruptor, penipu, garong, penindas, tukang copet, tukang tadah, lindah darat etc.
 
 

Mengakhiri Jebakan Pemimpin Artifisial

Kamis, 27 Maret 2014
 
NEGERI ini memang paradoksal. Indonesia ialah negara besar, tetapi sudah berpuluh-puluh tahun gagal menunjukkan kebesarannya. Indonesia ialah negara dengan 250 juta penduduk, tetapi teramat sukar mencari pemimpin yang benar-benar pemimpin.

Sudah teramat lama bangsa ini krisis kepemimpinan. Kita pernah memiliki sosok-sosok besar seperti Bung Karno, Hatta, Syahrir, Natsir, atau Kasimo. Mereka pemimpin-pemimpin besar yang tak hanya dicintai rakyat, tetapi juga disegani bangsa-bangsa lain.

Mereka pemimpin berintegritas, yang setiap laku dan tindakan semata-mata demi mengangkat harkat dan martabat bangsa. Mereka bukan pemimpin yang asal jadi dan mengaku-aku sebagai pemimpin, melainkan pemimpin yang benar-benar pemimpin.

Namun, kisah membanggakan itu tinggal cerita. Kerin-duan rakyat untuk mendapatkan kembali pemimpin-pemimpin seperti mereka, yang berjiwa negarawan, pun sudah sangat lama terpendam, seakan-akan sekadar impian yang entah kapan menjadi kenyataan.

Era reformasi yang digadang-gadang sebagai momentum kebangkitan men­cetak pemimpin besar, yang punya gagasan-gagasan besar dan punya kemauan besar untuk mewujudkannya, masih jauh dari harapan.

Betul bahwa sejak keran reformasi dibuka, ribuan anak bangsa terobsesi menjadi pemimpin. Namun, mereka baru pemimpin dalam arti julukan, bukan orang yang berjiwa pemimpin.

Itulah keprihatinan yang sudah lama menggumpal seakan-akan tanpa jalan keluar. Keprihatinan itu pula yang diungkapkan secara gamblang oleh Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh saat berdialog dengan sekitar 200 mahasiswa di Padang, Sumatra Barat, Selasa (25/3). Menurut Surya, selama 16 tahun era reformasi, kita terperangkap pada pemimpin artifisial, pemimpin buatan yang lahir dari pencitraan. Bukan pemimpin substansial dengan ide-ide besar yang bisa mengembalikan kebesaran bangsa.

Di masa silam, bangsa ini mampu menyejajarkan diri dengan negara-negara besar lantaran memiliki pemimpin substansial. Mereka berhasil menjulangkan nama bangsa lantaran lahir dari pergerakan terdidik yang visioner.

Namun, setelah dikelola pemimpin artifisial, Indonesia kehilangan kebanggaan di segala bidang. Jangankan dengan negara-negara superior semacam Amerika Serikat, tatkala berhadapan dengan negara-negara tetangga saja kita kerap inferior. Ketegasan bersalin wujud menjadi ketidakberdayaan untuk menunjukkan harga diri.

Nostalgia indah bukan hanya untuk dikenang, melainkan juga harus kita ulang. Pemilihan umum tahun inilah saatnya untuk mewujudkan kembali harapan kita memiliki pemimpin-pemimpin hebat. Bisakah? Semua bergantung  pada rakyat.

Yang pasti, agar tak terus tersandera oleh pemimpin artifisial dan lepas dari jebakan pemimpin palsu yang eksis karena sekadar pintar memoles citra, rakyat mesti cerdas dan jeli menjatuhkan pilihan. Kesadaran rakyat akan pen­tingnya perubahan merupakan keniscayaan.

Hanya figur yang steril dari kepentingan pribadi dan kelompok, yang lantang bersuara 'ini dadaku, mana dadamu' kala berurusan dengan negara lainlah yang layak jadi pemimpin. Kita meminta pemimpin artifisial yang besar karena pencitraan minggir dari pertarungan. Jangan jebak rakyat dengan citra.

__._,_.___
Reply via web post Reply to sender Reply to group Start a New Topic Messages in this topic (1)
http://groups.yahoo.com/group/batavia-news
to Subscribe via email :
batavia-news-subscribe@yahoogroups.com
----------------------------------------
VISIT Batavia News Blog
http://batavia-news-networks.blogspot.com/
----------------------------
You could be Earning Instant Cash Deposits
in the Next 30 Minutes
No harm to try - Please Click
http://tinyurl.com/bimagroup 
--------------
.

__,_._,___

No comments:

Post a Comment