Sunday, December 29, 2013

[batavia-news] Berawal Uang Saku Rp 25 Ribu, Anggotanya Rela Jaga Gereja

 

 

Berawal Uang Saku Rp 25 Ribu, Anggotanya Rela Jaga Gereja

  • Senin, Des 30 2013
  • Ditulis oleh 
  • ukuran huruf perkecil besar tulisan perbesar ukuran huruf

Bincang-Bincang Bersama Ketua BKPRMI Maluku Zulkifly Lestaluhu

Zulkifli LestaluhuToleransi bukan lah sebuah benda yang, punya wujud. Tetapi bukan juga tak kasat mata. Seperti embun, toleransi itu menyejukkan..

Untuk menampilkan potret muslim yang toleran, tak perlu membaca buku karangan penulis Muslim sekaliber Hassan Hanafie ataupun Gus Dur. Cukup ke Ambon, di sini bukan saja Muslim, umat Kristiani pun bersikap yang sama. Jika berwujud sebuah benda, toleransi bisa menjadi cinderamata khas Maluku setelah berkunjung ke daerah ini.

Pada malam Natal, 24 Desember 2013, pekan kemarin, mengamankan gereja bukan saja terlihat di Maranatha. Di Gereja Hok Im Tong, Silo sampai Rehoboth, di perempatan Batugantung-Kudamati, barisan pemuda dari Badan Koordinasi Pemuda Remaja Mesjid Indonesia (BKPRMI) ikut berjaga-jaga. Mereka pasang badan bersama-sama aparat keamanan.

Seperti pekan kemarin, puluhan pemuda berkopiah dan berkostum putih model baju koko, terlihat berjaga-jaga di depan Maranatha, Mata mereka awas mengamati setiap objek. Sementara di beberapa tempat, dua atau tiga orang mengambil posisi sendiri.

Namun pemandangan paling menonjol, tetaplah aparat keamanan. Bersenjata lengkap dan berjaga-jaga. Juga lautan kendaraan roda empat berjejer panjang, di sisi-sisi jalan depan gereja yang temaram. Sementara di dalam gereja yang belum lama diresmikan itu, cahaya lampu berpendar hingga ke teras depan. Di situ jemaat penuh sesak, hingga di ruang bagian dalam gereja yang luas. Mereka khusuk, tak ada gerakan tubuh yang tak perlu. Sementara tak jauh dari Maranatha, di Balai Kota Ambon, jarum panjang lonceng kota, menyelesaikan detik demi detik jam-jam yang tersisa, sebelum pukul 00.00 Wit.

Sejak menjabat Ketua BKPRMI Kota Ambon Zulkifly Lestaluhu telah mengerahkan anggotanya, menjaga gereja. Silo, Maranatha, Rehoboth, Katedral Amboina, Santo Joseph, hingga Gereja Petra di Karpan Ahuru, pernah dijaga saat malam Natal di tahun 2010. Sukses di tahun itu, pemerintah Kota Ambon pun meminta BKPRMI Kota Ambon meggelar hal yang sama di tahun 2011. Apalagi insiden 11 September, ketika itu, membuat suasana kota Ambon cukup rentan.

Peristiwa 11 September 2011, tak diduga sedikitpun akan terjadi. Padahal, dua komunitas sudah hidup berdampingan ketika itu. Di tahun 2005, Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku (AMGPM) bahkan menjaga umat Muslim menggelar Shalat Idul Fitri di Lapangan Merdeka.

Sejak terobosan yang dibuat BKPRMI, Zulkifly mengaku tidak sepi dari penilaian miring dari beberapa warga muslim. Teror dan ancaman bahkan pernah dia alami. Dia tidak tahu persis motivnya, selain nada mencemooh yang bisa dipakai untuk memperkirakan motif tersebut. Namun dia lalui semua dengan keyakinan.

Padahal akui pria yang pernah bertugas sebagai salah satu dari ratusan agen perdamaian Maluku ini, terobosan yang dilakukan tak lebih sebuah panggilan hati. Tidak ada iming-iming yang ingin dicapai. Pada Natal 25 Desember 2010, dia dan anggotanya hanya diberi uang saku Rp 25 ribu saat itu.

"Tapi beta heran e, anak-anak begitu semangat waktu itu, padahal jaman sekarang ini katong minta orang bikin apa-apa paling sulit, tapi Remas (remaja mesjid) tidak, dong mau saja, jaga gereja waktu natal," terang lelaki yang akrab disapa Bang Zul ini.

Terkait gereja sebagai tempat ibadah yang harus dilindungi, ada contoh yang patut ditiru, kata Zulkifly yang kini menjabat Ketua BKPRMI Maluku. Adalah Khalifah Umar bin Khattab RA, yang terkenal ketegasannya. Dalam sebuah perjalanan, ketika melewati sebuah perkampungan, waktu solat Dhuhur tiba. Namun tak satupun mesjid terlihat kecuali sebuah gereja. Umar lalu meminta ijin kepada kepala negeri kampung tersebut untuk melaksanakan solat. Dia pun diijinkan bahkan diminta solat di dalam gereja. Namun sebagai panutan umat, Umar berfikir jika bersembahyang di dalam gereja, di kemudian hari caranya itu akan ditiru oleh generasi selanjutnya. Akan terjadi salah kaprah, bahwa tempat ibadah umat muslim, bukan saja mesjid tapi juga gereja.

Maka dengah halus, Khalifah Umar pun menolak solat di dalam gereja tersebut. Dia lalu menggelar surban yang dikenakannya di teras depan gereja, lalu menghadap kiblat dan mendirikan solat dhuhur di situ. "Para khalifah Islam saja sudah berbuat begitu, tidak ada fanatisme sempit, lalu kita-kita yang hanya paham agama secuil ini? mau bersikap yang aneh-aneh, sesungguhnya tidak semua kalangan muslim itu seperti teroris, astagaa itu hanya kelompok orang-orang yang error saja," gugat alumnus IAIN Ambon pada Fakultas Syariah ini.

Penyebab konflik yang pernah menghancurkan tatanan hidup orang Maluku, menurut Zulkifly, dikarenakan meski secara adat masyarakat Maluku ada pertalian darah, tapi mereka disekat oleh fanatisme agama. Mungkin tidak ada satu daerah pun di Indonesia, dimana fanatisme adat sama kuatnya dengan fanatisme agama. Yang Muslim sangat identik dengan keislamannya, demikian pula dengan Kristen.

Di birokrasi, dari kepala dinas sampai gubernur, orang bukan bertanya-tanya siapa dia, tapi dia orang apa? Muslim atau Kristen?. Tapi di pulau Jawa, warga yang bernama Sukarno atau Hamad, belum tentu Muslim. "Di Maluku tidak, kita akan dengan mudah mengenal siapa Muslim siapa Kristen baru dari nama saja," katanya.

Tapi Pilgub Maluku putaran kedua, yang baru saja usai, sebut lelaki kelahiran 21 Januari 1970 ini, membuktikan, kebersamaan sudah terjalin kuat. Buktinya dari dua pasangan gubernur Muslim yang bertarung, partisipasi pemilih cukup tinggi, 67 persen. Hanya sedikit di bawah rata-rata nasional sebesar 70 persen itu.

Demikian pula issu provokatif, yang dulunya merupakan pemicu utama terjadinya konflik massif, kini tidak lagi. Insiden terakhir, di perayaan HUT Pattimura 2012, hanya terjadi di satu titik. Imbasnya pun nyaris tak terasa. Dan hanya beberapa hari berselang, tak sampai satu minggu, di Pasar Mardika, warga dua komunitas beraktifitas seperti biasa.

Seperti kata pepatah, kalau pun menang, jadi arang, dan yang kalah jadi abu, konflik Maluku berakhir jua. Melalui "etape" kerusuhan Maluku itu, kata dia, di situ ada efek jera. Ada ribuan orang yang kena imbas sama-sama menyatakan STOP dengan tanda seru besar-besar, untuk konflik.

Zulkifly pun bisa berpuas hati. Beberapa waktu lalu melalui jalur honorer K1, dia berhasil mendapatkan pekerjaan tetap pada salah satu dinas di Pemprov Maluku. Memiliki kelengkapan porto folio sebagai tenaga lapangan pendidik masyarakat (TLPD) di bawah  tahun 2005, mau tidak mau dia mengambil kesempatan itu. Sebenarnya dia lebih tertarik menjadi tentara, atau sekalian jadi wakil rakyat saja. Tapi dia harus rasional.

Dan bagi Bang Zul, setelah toleransi, setiap orang seharusnya rasional. Kedua sikap tersebut sangat dibutuhkan di era sekarang. Pengalaman konflik sosial mengajarkan dua sikap tersebut. Toleransi menimbulkan kesejukan, rasional menghasilkan keberkahan. Di saat konflik, hanya orang-orang yang rasional bisa bertransaksi  dagang. Yang lainnya bertemu, berdiskusi, lalu mewujudkan perdamaian.(**)



I am using the Free version of SPAMfighter.
SPAMfighter has removed 1994 of my spam emails to date.

Do you have a slow PC? Try a free scan!

__._,_.___
Reply via web post Reply to sender Reply to group Start a New Topic Messages in this topic (1)
Recent Activity:
http://groups.yahoo.com/group/batavia-news
to Subscribe via email :
batavia-news-subscribe@yahoogroups.com
----------------------------------------
VISIT Batavia News Blog
http://batavia-news-networks.blogspot.com/
----------------------------
You could be Earning Instant Cash Deposits
in the Next 30 Minutes
No harm to try - Please Click
http://tinyurl.com/bimagroup 
--------------
.

__,_._,___

No comments:

Post a Comment