Sunday, February 23, 2014

[batavia-news] KPI: Hentikan Penempatan Pelaut ke Taiwan

 

 
PEKERJA LAUT

KPI: Hentikan Penempatan Pelaut ke Taiwan


Senin, 24 Februari 2014
JAKARTA (Suara Karya): Kesatuan Pelaut Indonesia (KPI) mendesak pemerintah untuk melakukan moratorium (penghentian sementara) penempatan pelaut Indonesia ke kapal-kapal perikanan milik atau yang dioperasikan pengusaha Taiwan. Pasalnya, makin banyak kasus penelantaran ABK Indonesia oleh kapal-kapal perikanan Taiwan, tanpa ada penyelesaian yang tuntas.
Demikian dikemukakan Presiden KPI Hanafi Rustandi, menanggapi pemulangan 74 pelaut perikanan yang bekerja di kapal-kapal perikanan Taiwan, di Jakarta, akhir pekan lalu.
Penelantaran itu, katadia , terutama menyangkut hak upah para ABK yang tidak dibayarkan. Selain sering menyengsarakan pelaut, kapal-kapal Taiwan itu juga merusak citra Indonesia.
"Mereka sering berganti nama dan menggunakan bendera Indonesia di tengah laut tanpa melalui prosedur yang legal. Pemerintah harus segera melakukan moratorium, untuk menghentikan kasus-kasus perbudakan pelaut Indonesia di kapal-kapal perikanan Taiwan," tutur Hanafi.
Kasus pemulagan pelaut Indonesia dari Cape Town, Afrika Selatan, menambah panjang kasus pelaut Indonesia yang bekerja di kapal Taiwan. Sebelumnya, terjadi kasus penelantaran 163 ABK Indonesia, yang bekerja di sejumlah kapal perikanan Taiwan di Trinidad & Tobago. "Sampai saat ini tidak ada penyelesaian atas hak-hak mereka," ujar dia.
Kedatangan pelaut dari Cape Town disambut Sekretaris Pimpinan Pusat KPI Sonny Pattiselanno, staf Protokol dan Konsuler KBRI di Pretroria-Afsel, Risa WS Wardhani, Konsul RI di Cape Town, Adhi Wibowo, serta Direktur Mediasi dan Advokasi Badan Nasional Penempatan Perlindungan TKI (BNP2TKI) Teguh Hendro Cahyono.
Ke-74 pelaut yang dipu-langkan itu, bekerja di 7 ka-pal longline Taiwan, yang beroperasi di fishing ground internasional, termasuk di fishing ground Afrika Selatan.
Mereka direkrut oleh 12 agen perekrutan di Indonesia, umumnya di Jakarta dan diterbangkan ke beberapa pelabuhan yang disinggahi kapal di luar negeri.
Bahkan, ada yang melalui beberapa pelabuhan transit sebelum ditempatkan di kapal atau dipindah-pindahkan ke kapal lain di laut. Salah seorang ABK mengaku, awalnya diberangkatkan dari Jakarta ke Medan, kemudian diberangkatkan lagi ke Penang, Malaysia, untuk naik kapal. Para agen di Indonesia ini mendapat order perekrutan dari 5 broker pencari tenaga kerja di Taiwan dan di Malaysia.
Mereka bekerja di 7 kapal perikanan dengan kontrak kerja rata-rata 3 tahun, tapi ada yang sudah bekerja sampai 5 dan 7 tahun. Para pelaut itu digaji antara 170 - 350 dolar per bulan, tergantung pekerjaannya. Namun mereka rata-rata hanya menerima gaji selama 4 bulan pertama, selebihnya sampai saat dipulangkan ke Tanah Air, belum dibayar. (Budi

__._,_.___
Reply via web post Reply to sender Reply to group Start a New Topic Messages in this topic (1)
http://groups.yahoo.com/group/batavia-news
to Subscribe via email :
batavia-news-subscribe@yahoogroups.com
----------------------------------------
VISIT Batavia News Blog
http://batavia-news-networks.blogspot.com/
----------------------------
You could be Earning Instant Cash Deposits
in the Next 30 Minutes
No harm to try - Please Click
http://tinyurl.com/bimagroup 
--------------
.

__,_._,___

No comments:

Post a Comment