Sunday, February 16, 2014

[batavia-news] Ketidaksetaraan dan Diskriminasi Kendala Besar Pembangunan

 

Res : Ketidaksetaran ini  juga terdapat  dan nampak jelas di NKRI yaitu antara wilayah pusat kekuasaan dan wilayah (provinsi) periferi.
 
 

Ketidaksetaraan dan Diskriminasi Kendala Besar Pembangunan

Kategori berita: Aneka Artikel dimuat pada: 15 Feb 14, 00:58 WIB

Sebuah Laporan Khusus PBB Ungkapkan

 

SEBUAH laporan badan PBB mengungkapkan, ketidaksetaraan dan diskriminasi, khususnya terhadap perempuan, tercatat di antara kendala-kendala terbesar di dunia bagi pembangunan.

Studi yang menghimpun data dari 176 negara itu, menekankan bahwa makin besarnya ketidaksetaraan bisa merusak kemajuan di bidang kesehatan, pendidikan dan perang melawan kemiskinan dalam 20 tahun terakhir.

Laporan khusus Dana Kependudukan PBB itu adalah kelanjutan sebuah studi yang dikeluarkan di Kairo pada 1994 setelah Konferensi Internasional Kependudukan dan Pembangunan (ICPD).

Penelitian tersebut, berjudul "Beyond 2014" merekomendasi pemerintah-pemerintah mengambil berbagai langkah legislatif untuk melindungi populasi mereka yang termiskin dan terpinggirkan, khususnya di kalangan remaja, wanita korban kekerasan dan komunitas pedesaan.

"Temuan-temuan laporan tersebut menunjukkan alasan pemerintah-pemerintah harus membuat dan menjalankan undang-undang yang menghilangkan ketidaksetaraan dan melindungi hak-hak asasi manusia, alasan mereka mesti memenuhi berbagai komitmen yang dibuat di Kairo, ungkap Direktur Dana Kependudukan Babatunde Osotimehin.

Menurutnya, para perempuan muda merupakan barometer sangat bagus untuk mengukur kemajuan atau kemunduran hal-hal tersebut.

"Gadis remaja berisiko tinggi di berbagai komunitas termiskin. Semakin banyak saja anak perempuan cuma tamat sekolah dasar, tapi mereka menghadapi berbagai tantangan dalam mengakses dan menyelesaikan pendidikan tingkat pertama," ujarnya.

"Mendukung cita-cita mereka, dan aspirasi semua orang muda merupakan kunci," tegas Osotimehin.

Meningkat

Dalam 20 tahun terakhir, kematian akibat kehamilan dan kematian anak telah meningkat 47 persen, makin banyak anak perempuan bersekolah dan pertumbuhan populasi telah melamban, papar laporan tadi.

Namun sekira 800 perempuan meregang nyawa saat melahirkan setiap harinya pada tahun 2010 lalu, 222 juta perempuan masih tak memiliki akses ke kontrasepsi dan satu dari tiga wanita di seluruh dunia mengaku mengalami kekerasan fisik atau seksual.

"Riset menunjukkan sebuah korelasi positif yang signifikan antara pendidikan perempuan, keluarga lebih sehat dan makin kuatnya pertumbuhan GDP," lanjut laporan itu.

Kalau perkawinan anak dianggap ilegal di 158 negara, satu dari tiga perempuan kawin sebelum usia 18 tahun di negara-negara berkembang, sehingga menghancurkan peluang pendidikan dan mobilitas sosial.

Osotimehin menambahkan bahwa selain ini kemajuan hanya menguntungkan minoritas kecil penduduk.

"Laporan itu membeberkan secara rinci berlanjutnya ketidaksetaraan dan diskriminasi yang mengancam menggagalkan pembangunan," tegasnya.

Menurut laporan tersebut, "tantangan bersama terbesar yang dihadapi dunia adalah berbagai keberhasilan kita...makin kurang merata, sehingga mengancam pembangunan inklusif, lingkungan dan masa depan bersama kita."

"Ketidaksetaraan ekonomi yang semakin besar menyebabkan gangguan dan sangat merusak pembangunan berkesinambungan," imbuh laporan tadi. (afp/b

__._,_.___
Reply via web post Reply to sender Reply to group Start a New Topic Messages in this topic (1)
http://groups.yahoo.com/group/batavia-news
to Subscribe via email :
batavia-news-subscribe@yahoogroups.com
----------------------------------------
VISIT Batavia News Blog
http://batavia-news-networks.blogspot.com/
----------------------------
You could be Earning Instant Cash Deposits
in the Next 30 Minutes
No harm to try - Please Click
http://tinyurl.com/bimagroup 
--------------
.

__,_._,___

No comments:

Post a Comment