Tuesday, November 12, 2013

[batavia-news] Disebut Jenderal Tak Tegas, Ini Komentar SBY

 

 

Disebut Jenderal Tak Tegas, Ini Komentar SBY

  • Penulis :
  • Sandro Gatra
  • Selasa, 12 November 2013 | 10:16 WIB
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Negara Ani Yudhoyono | KOMPAS.COM/Sandro Gatra
 
 
JAKARTA, KOMPAS.com —Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengaku mendengar kritikan dari berbagai pihak yang menyebutnya tidak tegas dalam memimpin. Presiden juga mengaku mendengar permintaan agar dirinya tidak perlu bicara banyak tentang hak asasi manusia dan kemanusiaan.

"Saya dengar komentar, 'SBY itu Jenderal, mestinya bisa lebih tegas dan tidak perlu bicara banyak tentang HAM dan kemanusiaan', kata Presiden SBY dalam akun Twitter-nya @SBYudhoyono.

Menjawab pernyataan itu, SBY balik bertanya, pernahkan Anda menjumpai dan menyaksikan drama yang memilukan di medan pertempuran? SBY lalu bercerita saat dirinya melaksanakan operasi di Timor Timor tahun 1976 . Saat itu, terjadi kontak tembak sekitar setengah jam.

Di sana, SBY mengaku menjumpai anak laki-laki berusia 5 tahun menangis memeluk ibunya yang tewas karena peluru nyasar. Peristiwa itu, kata SBY, telah mengubah masa depan anak itu selamanya.

"Ketika Anda menjalani tugas operasi dan bertemu dengan penduduk sipil, Anda akan bisa membaca wajah, hati, dan pikiran mereka. Mereka takut, putus asa, bingung. Siang hari mereka takut pada TNI dan Polri. Malam hari mereka takut pada GAM/Fretelin/OPM," kata SBY.

"Rasa aman dan tentram, salah satu hak dasar yang paling asasi, telah dirampas dan dicabut oleh keadaan," katanya.

"Saya sangat memahami perasaan istri dan anak-anak yang kehilangan orang yang mereka cintai. Juga para orangtua prajurit yang gugur," tambah dia.

SBY mengatakan, pengalaman dan pergulatan hidup telah membentuk kepribadiannya sebagai presiden. "Saya tidak akan obral dan girang untuk begitu saja menyatakan perang dengan bangsa lain. Saya menyenangi perdamaian," katanya.

Di tweet-nya yang lain, SBY menyinggung komentar yang bernada pesimistis dan negatif terhadap jabatan presiden. SBY mengutip pernyataan, "Heran, kenapa banyak yang ingin jadi presiden. Emang enak? Memang bisa bikin baik negeri ini?"

Menjawab sikap pesimistis itu, SBY mengatakan, tidak benar jika presiden dianggap serba susah, sengsara, dan tidak ada yang bisa diperbuat untuk bangsa. Bagi pemimpin sejati, kata dia, suka duka, tantangan berat, dan ujian sejarah merupakan romantika dan kekayaan hidup yang tiada tara. Pengorbanan yang harus dibayar juga luar biasa.

"Pemimpin adalah sosok yang dipuji sekaligus dibenci. Tapi, bagaimanapun, itu sesuatu yang mulia," kata Ketua Majelis Tinggi sekaligus Ketua Umum DPP Partai Demokrat itu.

"Ketika saya berkunjung ke daerah bertemu masyarakat, mendengar harapan dan aspirasinya, rasa lelah baik fisik maupun pikiran sirna. Melihat sinar mata masyarakat di banyak kesempatan, rasanya tidak ada masalah yang tidak ada solusinya, seberat apa pun masalahnya," tambahnya.

Presiden juga berharap mendapat dukungan dari semua warga Indonesia. "Jika presiden dan rakyat yang mendukungnya bisa jadikan Indonesia lebih baik dan maju, itulah puncak kebahagiaan dan kehormatan seseorang Presiden," kata SBY.

Editor : Sandro Gatra

__._,_.___
Reply via web post Reply to sender Reply to group Start a New Topic Messages in this topic (1)
Recent Activity:
http://groups.yahoo.com/group/batavia-news
to Subscribe via email :
batavia-news-subscribe@yahoogroups.com
----------------------------------------
VISIT Batavia News Blog
http://batavia-news-networks.blogspot.com/
----------------------------
You could be Earning Instant Cash Deposits
in the Next 30 Minutes
No harm to try - Please Click
http://tinyurl.com/bimagroup 
--------------
.

__,_._,___

No comments:

Post a Comment