Tuesday, November 19, 2013

[batavia-news] Untuk Kepentingan Siapa Sarwo Edhi Melakukan Pembantaian?

 

 
Untuk Kepentingan Siapa Sarwo Edhi Melakukan Pembantaian?
Deden Yamara | Selasa, 19 November 2013 - 13:20 WIB
: 6177

Amerika menyuplai persenjataan, logistik, dan alat telekomunikasi RPKAD.

PEKANBARU - Rumah berdinding papan itu berada di luar Kota Pekanbaru. Jika curah hujan mengguyur, sering kali air masuk ke rumah yang berada di kawasan Panam tersebut.

Di dinding rumah itu terpampang foto Ir Soekarno, Presiden pertama Republik Indonesia (RI)  ketika berpidato. Di sebelah foto itu, ada foto besar Soekarno dengan ibu negara, Fatmawati.

Pemilik rumah itu keluar dan menyambut SH yang ditemani aktivis demontrans yang kerap memperjuangkan kepentingan rakyat ketika menghadapi sengketa lahan melawan berbagai perusahaan di Riau.

Pemilik rumah ini memperkenalkan diri. Semula pria berkaca mata dan berambut mulai memutih ini mau menyebut nama aslinya saat wawancara, tetapi setelah dipertimbangkan dan atas permintaan keluarga, akhirnya korban politik 1945 ini pun minta namanya disamarkan. Trauma teror dari tentara membuat keluarganya masih dilanda ketakutan.

Akhirnya, SH menuliskan nama samarannya menjadi Sarwono. Pria itu kini berusia 72 tahun. Ia merupakan satu dari ribuan, bahkan jutaan korban penumpasan anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) 1965-1966. Organisasi ini dikambinghitamkan Soeharto dan militer pro Amerika akan melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan Soekarno.

Setelah mempersilakan SH mencicipi segelas kopi ginseng, Senin (18/11), Sarwono bercerita peristiwa pembantaian anggota PKI atau orang-orang yang dituduh sebagai anggota partai tersebut.

Di tahun 1965, Sarwono bekerja sebagai cleaning service di PT Caltex Pacific Indonesia (CPI) di Rumbai. Sebagai pemuda lajang waktu itu, dia masuk dalam organisasi Pemuda Rakyat (PR), underbow PKI. Suatu hari dia dijemput dan diperiksa Tim Pemeriksa Daerah (TPD) yang berada di Jalan Diponegoro, Pekanbaru. Di kantor ini sejumlah penyiksaan dialaminya. Dua jempol kakinya hancur dilindas kaki kursi dan petugas TPD yang duduk di atasnya. Dia dipaksa mengaku sebagai anggota PKI. "Padahal, saya tidak tahu apa yang terjadi saat itu," kata lelaki dua anak yang hari tuanya menjadi masa indah karena dihabiskan bersama cucunya.

Nasib Sarwono mungkin masih beruntung dibandingkan 3 juta orang yang mati dibantai karena dituduh menjadi anggota PKI atau pendukung Soekarno. Tragisnya, keluarga para korban  diisolasi dan dicabut hak-hak kewarganegaraannya sehingga tidak akan bisa menjadi pengawai negeri sipil (PNS) atau TNI dan Polri.

Pembantaian Sadis
Sarwono menceritakan di Provinsi Riau sedikitnya 5.000 orang menjadi korban peristiwa 1965. "Soal korban, kemarin saya baru pulang dari Pulau Merbau, Kabupaten Kepulauan Meranti. Di sana satu lubang 32 orang. Ada foto-fotonya yang kami dapat. Di daerah Mangkopot, ada dua lokasi, yang satu enam orang dan yang satu tidak jelas," ia mengungkapkan.

Sarwono pun menyebut di Kota Pasir Pangaraiyan, dekat kantor Bupati Rokan Hulu yang lama, ada 300 orang dikubur terkait peristiwa 1965. Di Pekanbaru, kuburan tidak bisa dideteksi karena dulunya berupa hutan belantara. Di dekat Arhanudse, Jalan HR Soebrantas, juga ada. Tetapi, kini sudah rata dengan perumahan. Bahkan, kuburan korban ada sampai ke daerah Provinsi Sumatera Barat.

"Semua sudah rata dengan pembangunan perumahan. Tiap daerah ada korban," ujarnya.

Saat ditanya ada apakah dirinya setuju jika Sarwo Edhi Wibowo, salah satu tokoh Peristiwa 1965, menjadi pahlawan nasional, Sarwono langsung terdiam. Dia kemudian melepas kacamata, lalu memasangnya kembali.  "Kalau pertanyaan itu, saya belum jawab tak bisa. Yang menentukan jadi pahlawan nasional itu bukan saya. Sarwo Edhie Wibowo itu cinta Tanah Air nggak? Untuk kepentingan siapa dia membantai PKI dan  menumbangkan Soekarno ?" katanya balik bertanya.

Sarwono menduga ada golongan-golongan tertentu yang mensponsori Sarwo Edhi menjadi pahlawan nasional. Setahunya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)  hanya penyambung lidah. "Setahu saya, SBY ini tak punya program-program sebagai presiden. Taruhlah ini program SBY, tentu ada alasan menjadikan Sarwo Edhi Wibowo sebagai Pahlawan Nasional. Apakah ini hanya karena Sarwo Edhi dan kelompoknya berhasil memberantas orang-orang komunis yang dituduh melakukan kudeta?" ujarnya.

Ia juga bertanya, apakah Sarwo Edhie Wibowo bukan menjadi agen yang direkrut Badan Intelejen Amerika, CIA. "Kalau persenjataan, logistik, alat telekomunikasi, dan uang bukan disuplai Amerika, lantas dari mana ?" kata Sarwono. 

Ia kemudian mempertanyakan tuduhan PKI waktu itu mengadakan kudeta, "Kepada siapa PKI itu memberontak? Kan harus jelas."

Soekarno dan Soeharto sama-sama represif. Keduanya sama-sama otoriter. Tetapi, Soekarno tidak pernah menjentik rakyat Indonesia, sedangkan Soeharto membunuh 3 juta rakyat selama dia berkuasa.

"Jadi tolong dijawab, termasuk oleh pakar-pakar sejarah bayaran sekaran! Seorang ahli sejarah yang sungguh-sungguh tidak akan berpihak. Bila Bapaknya kena, dia harus mengaku, Oh ya orang tua saya ikut membunuh," ucapnya lagi.

Pemerintahan waktu itu Presidennya Ir Soekarno, presiden seumur hidup. Ia juga Panglima Tertinggi Mandataris MPRS, Panglima Tertinggi Angkatan Perang. Lalu, kepada siapa dia memberontak? Ini pertanyaan besar.

"Mohon dijawab SBY dan kelompok pro Amerika yang akan mengangkat Sarwo Edhi menjadi pahlawan. Ini harus jelas.  Kalau PKI itu memberontak kepada Soekarno, sama nggak nasib PKI dengan Soekarno yang diperlakukan Soeharto, termasuk SBY hari ini. Ternyata nasib Soekarno sama dengan PKI. Soekarno mati dalam pengasingan. Ia diasingkan," ucapnya.

Setelah PKI hancur, ia mengimbuhkan, Soekarno jatuh. Siapa yang menguasai RI? Tentu Orde Baru. Itu musuhnya Soekarno. Kenapa PKI dituduh melakukan kudeta? Tolong ini dijawab SBY.

Rekonsiliasi
Saat ditanya adanya keinginan pemerintah SBY untuk melakukan rekonsiliasi, Sarwono hanya menanggapi dingin. Itu karena sampai hari ini keluarga korban 1965 belum ada yang menerima faktanya. Itu semua masih janji-janji, tidak pernah rekonsiliasi secara konkret.
Apalagi, pemerintahan SBY tinggal menunggu hari. Masalah ini, menurut Sarwono, akan terus mengapung. SBY dianggap  tak punya wewenang menyelesaikan peristiwa 1965 ini.

Sarwono berpendapat, sewaktu Soekarno memimpin RI, dia itu antikapitalis, antikolonialisme, antifeodalisme. Itu sesuai cita-cita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Pancasila, dan UUD 1945. Indonesia merdeka dari penindasan. Setiap  penjajahan dan penindasan harus dihilangkan dari muka bumi.  Tapi sekarang, kekayaan alam Indonesia diekspoloitasi perusahaan-perusahaan asing. Indonesia hanya menjadi bangsa kuli.

Begitu PKI dan Soekarno tumbang, imperialis menjadi raja sampai hari ini. Sebanyak 80 persen aset negara dikuasai  asing.

Sebelum wawancara berakhir, Sarwono berpesan, jurnalis harus menulis sesuai fakta, jangan menjadi penulis sejarah bayaran. Dia pun meminjamkan buku berjudul Mafia Berkeley dan Pembunuhan Massal di Indonesia karangan Ramparts-David Ransom.

__._,_.___
Reply via web post Reply to sender Reply to group Start a New Topic Messages in this topic (1)
Recent Activity:
http://groups.yahoo.com/group/batavia-news
to Subscribe via email :
batavia-news-subscribe@yahoogroups.com
----------------------------------------
VISIT Batavia News Blog
http://batavia-news-networks.blogspot.com/
----------------------------
You could be Earning Instant Cash Deposits
in the Next 30 Minutes
No harm to try - Please Click
http://tinyurl.com/bimagroup 
--------------
.

__,_._,___

No comments:

Post a Comment