Saturday, January 11, 2014

[batavia-news] Hujan dan Musim Kawin

 

res : Pada musim hujan udara menjadi dingin, jadi solusinya agar tidak kedinginan  maka badan perlu dihangatkan dengan perkawinan. 
 
 
 
 
Hujan dan Musim Kawin
 
Sabtu, 11 Januari 2014 23:11 WITA
 
laporan on the spot Aqsa Riandy Pananrang Wartawan Tribun TimurMelaporkan dari Vietnam
 
 
 
MAKAN pagi di hotel berbintang mungkin hal biasa bagi Anda. Tapi sarapan di tepi sungai ditemani suara perahu tempel dan kapal motor bisa menjadi hal berbeda.
 
Suasana itu yang menemani sarapan saya bersama rombongan Silk Air Makassar Agent/ Media Fam Trip di Vinh Hung Riverside Resort, Hoi An, Vietnam, Sabtu (11/1).
 
Kami bersantap di area terbuka di tepi Sungai Vinh Hung di belakang resort. Setelah mengisi perut secukupnya, kami kembali menumpang bus.
 
Untuk selanjutnya hijrah ke Kota Hue, salah satu dari ibu kota kekaisaran di Vietnam yang masih terjaga hingga saat ini. Menuju ke Kota Hue, bus yang kami tumpangi kembali melalui Kota Danang.
 
Jalur yang sama saat datang ke Kota Hoi An melalui Danang pula. Bus berpapasan dengan iring-iringan pengantin. Kemudian giliran melihat persiapan pesta pernikahan di rumah penduduk maupun beberapa di restoran yang berada di pinggir jalan.
 
Tak ada penataan berlebihan. Nuansa tradisional juga tak begitu tampak pada perhelatan resepsi nikah. Pemandangan serupa terlihat saat perjalanan kami ke Hoi An. Bahkan, kami melalui pesta pernikahan di rumah-rumah penduduk hingga tiga kali.
 
Menurut penjelasan pemandu dari Asian Travel Mate, Susi, kedatangan kami bertepatan dengan 'musim' kawin.
 
"Bagi orang Vietnam periode ini merupakan waktu yang baik untuk melangsungkan pernikahan," katanya melalui pengeras suara. Lebih pasnya lagi, selama sehari berada di Danang-Hoi An kami kerap disambut cuaca mendung serta hujan.
 
Entah apa kondisi cuara itu ada hubungan dengan musim kawin tersebut. Nah, yang pasti untuk menghelat pesta sederhana, menurut Susi, tidak memakai istilah uang mahar seperti di Indonesia termasuk dalam budaya Sulsel. Cukup ada kesepakatan keluarga untuk menghelat pesta.
 
Perjalanan
Lokasi wisata kembali dilalui seperti dalam perjalanan kami sehari sebelumnya dari Danang ke Hoian.
 
Namun, kali ini kami meminta mampir di pusat kerajinan tangan marmer, Tien Hieu 3, Jl Dien Ngoc, Distrik Sontra. Saya sebelumnya mengira lokasi ini adalah taman. Penataan minimalis tradisional dengan "pohon" ratusan patung marmer beragam bentuk seperti Dewi Kwan I'm, Buddha Gautama, singa, dan bentuk lainnya.
 
Kami berkesempatan melihat proses pembuatan kerajinan marmer hingga menjadi produk jadi seperti patung, gelang, hiasan, dan suvenir lainnya. Anda bisa membeli. Gelang marmer misalnya ditawarkan mulai lima dolar AS.
 
Melalui Danang, bus kembali melintasi pesisir pantai. Namun, kali ini perjalanan lebih panjang. Selain Pantai Utara, rombongan melintasi Pantai Peninsula.
 
Dari kejauhan ada patung Dewi Kwan I'm yang berdiri kokoh di atas perbukitan. Pandangan pantai tak berhenti disitu. Pantai nyaris menemani kami sepanjang perjalanan termasuk saat bus mulai melalui jalan menanjak dan berkelok di kilometer 80 sebelum Hue.
 
Nah, dari jendela bus hamparan pantai terlihat jelas. Kelok-kelok jalanan yang  menyeramkan dengan jurang lebar menganga buyar dengan pemandangan alam di daerah ini.
 
Untuk menuju Kota Hue, kami melewati kawasan pegunungan Hai Voin Pass yang berada di ketinggian 4.000 meter di atas permukaan laut.
 
Pemandangan tentu saja indah. Tapi di sisi lain ada rasa was-was karena jalan berdampingan dengan jurang menganga. Meski, jalur ini tetap aman dan nyaman.
 
Ada pagar pembatas dari besi maupun beton setinggi setengah meter dengan marka maupun cermin di tikungan tajam. Kondisi infrastruktur jalan juga cukup baik.
 
Sekitar sejam melewati jalan berkelok, bus mampir di bunker yang dulunya menjadi markas pemerintah Amerika Serikat (AS).
 
Berada di ketinggian pegunungan. Udara cukup dingin dan kulit terasa menembus kabut. Ada beberapa warung makan dan penjual suvenir untuk "cuci mata".
 
Bunker yang kami tuju berada di atas perbukitan. Terdapat sekitar tiga bangunan dengan stuktur batu bata. Beberapa bangunan kecil lainnya terbuat dari beton.
 
Mirip posko penjaga di markas militer. Di lokasi ini, kita bisa memandangi hamparan pemandangan hutan di atas gunung yang diselimuti kabut. Di sisi lainnya, kita bisa melihat hamparan pantai.
 
Selanjutnya, kami melanjutkan perjalanan melewati sejumlah desa maupun kawasan lainnya. Perjalanan ini cukup komplit.
 
Usai jalan berkelok kami memasuki daerah Tran Lang Cong, Hue. Daerah ramai pertama ditemui. Sama seperti kota Danang, daerah ini terkenal akan keindahan pantainya.
 
Garis pantai memanjang sepanjang kawasan ini. Resort mewah pun beberapa berdiri dan mengambil lokasi persis di bibir pantai.  Selanjutnya, memasuki Luc Thuy, Phuloc, yang menjadi sentra pertanian utamanya beras. Menyusul Lagoo, Hue, daerah pesisir pantai dan sentra perikanan.
 
Perjalanan cukup panjang dan melelahkan.  Sekitar 4,5 jam menempuh perjalanan, rombongan akhirnya sampai di pusat Kota Hue, Provinsi Thua Thien-Hue.
 
Di lokasi inilah, kami kembali bermukim semalam untuk melakukan tur wisata ke sejumlah obyek wisata utamanya kompleks kerajaan Hue.
 
Nah, tiba di Muong Thanh untuk melakukan inspeksi fasilitas hotel dan makan siang, lagi-lagi di ballroom berlangsung pesta resepsi pernikahan. Kondisi serupa saat mengecek fasilitas Indhocine Hotel yang merupakan hotel di bawah Best Western.(*)
 

__._,_.___
Reply via web post Reply to sender Reply to group Start a New Topic Messages in this topic (1)
Recent Activity:
http://groups.yahoo.com/group/batavia-news
to Subscribe via email :
batavia-news-subscribe@yahoogroups.com
----------------------------------------
VISIT Batavia News Blog
http://batavia-news-networks.blogspot.com/
----------------------------
You could be Earning Instant Cash Deposits
in the Next 30 Minutes
No harm to try - Please Click
http://tinyurl.com/bimagroup 
--------------
.

__,_._,___

No comments:

Post a Comment